Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

2.675 Rumah Rusak Akibat Gempa Maluku

Suwardi SinagaAhad, 29 September 2019 21:48 WIB
BNPB
Bantuan BNPB.

Indomedia.co - Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (
BPBD)
Provinsi Maluku mencatat total rumah rusak
akibat gempa
Magnitudo 6,5 yang mengguncang Maluku pada Kamis (26/9/2019)
mencapai
2.675 unit per 29 September 2019 malam. Dari jumlah tersebut, 852 di antaranya
mengalami rusak berat.




Demikian disampaikan oleh Plt Kepala Pusat
Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus
Wibowo dalam keterangan tertulisnya kepada awak media, Ahad (29/9/2019) malam.




Kerusakan rumah tertinggi berada di Kabupaten
Maluku Tengah, dengan rincian sebagai beriktu Maluku Tengah rusak berat (RB)
658 unit, rusak sedang (RS) 385, rusak ringan (RR) 888; Kabupaten Seram Bagian
Barat RB 109, RS 163 dan RR 31 dan Kota Ambon RB 85, RS 135 dan RR 221.
Sedangkan kerusakan di sektor lain, fasilitas umum dan sosial sebanyak 87 unit.




Dampak lain berupa pengungsian yang masih
terjadi hingga kini. Sebagian masyarakat masih enggan untuk kembali ke rumah
karena khawatir dengan gempa susulan. BPBD Provinsi Maluku mencatat total
penyintas berjumlah 247.239 jiwa, dengan rincian Kabupaten Seram Bagian Barat
111.434 jiwa, Maluku Tengah 108.000 jiwa dan Kota Ambon 27.805. Sementara itu,
korban luka-luka di Maluku Tengah berjumlah 114 jiwa, Seram Bagian Barat 30 dan
Kota Ambon 22. Di Kabupaten Seram Bagian Barat, 12 orang mengalami luka berat
dan sisanya luka ringan
, jelas Agus.




Jumlah korban meninggal bertambah dua orang sehingga total meninggal hingga malam ini berjumlah 30 jiwa.




Hingga kini ketiga wilayah terdampak telah
menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi. Masing-masing wilayah
menetapkan masa khusus tersebut selama 14 hari terhitung dari 26 September 2019
hingga 9 Oktober 2019
, papar Agus.




Di wilayah Kota Ambon, lima kecamatan terdampak yaitu Kecamatan Nusaniwe,
Sirimau, Baguala, Teluk ambon, Leitimur Selatan. Penyintas tertinggi berada di
Kecamatan Baguala. Sedangkan di Maluku Tengah, kecamatan terdampak yaitu 3
kecamatan, Salahutu, Pulau Haruku dan Leihitu. Sementara itu di Seram Bagian
Barat,
lima kecamatan
terdampak di Kairatu, Seram Barat, Inamosol, Amaratu dan Kairatu Barat.




Pemerintah daerah dibantu TNI, Polri, BNPB dan
berbagai pihak masih terus melakukan upaya penanganan darurat. Salah satu
tantangan yang dihadapi saat ini adanya banyak isu atau berita palsu (hoa
ks) terkait akan datang gempa besar dalam waktu dekat. Warga masih
percaya hoax tersebut sehingga mereka mengungsi ke bukit secara tersebar dan
sulit dijangkau petugas. Di samping itu, hujan yang turun menyebabkan kondisi
kesehatan sebagai salah satu prioritas penanganan
, jelas Agus.




Terkait dengan hoaks, BNPB, BMKG dan pemerintah setempat melakukan upaya menangkal hoaks yang beredar di media sosial. BMKG telah menyatakan bahwa isu
akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah
tidak benar atau berita bohong (hoa
ks),
karena hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi
dengan tepat, dan akurat kapan, dimana dan berapa kekuatannya
, pungkas Agus.




Seperti diberitakan sebelumnya gempa bumi
dengan
Magnitudo 6,5 terjadi pada 26 September
2019 pukul 06:46:45 WIB. Gempa tersebut terjadi pada 40 km timur laut Ambon
-Maluku dengan kedalaman 10 km. BMKG merilis tidak adanya potensi
tsunami.
(***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook