Rabu, 08 April 2020 WIB

Mendagri Undang 9 Universitas Bahas Efektivitas Pilkada Langsung

Suwardi SinagaJumat, 07 Februari 2020 20:59 WIB
Puspen Kemendagri
Mendagri Tito Karnavian memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri pertemuan internal bersama Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin untuk membahas Toleransi Kerukunan Beragama, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (7/2/2020).

Indomedia.co - Kemendagri mengundang perwakilan sembilan universitas di Indonesia untuk melakukan pertemuan membahas evaluasi efektivitas sistem pilkada langsung di Indonesia, di Kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (7/2/2020).




Staf Khusus Mendagri Kastorius Sinaga menjelaskan, dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Mendagri Tito Karnavian tersebut, Mendagri menyampaikan bahwa sudah sepatutnya diadakan evaluasi bersifat akademis terhadap efektivitas dari sistem pilkada langsung mengingat banyaknya dampak negatif yang terjadi selama ini dengan pilkada langsung.



"Maka, kami ingin evaluasi itu dilakukan secara akademis oleh pihak independen eksternal, yakni universitas," kata Tito dalam pertemuan yang merupakan inisiatif Mendagri ini.



Awalnya dalam pertemuan, ujar Kastorius, Tito memaparkan bahwa dari aspek politik, pilkada sangat esensial bagi demokrasi di Indonesia. Ia juga menjelaskan sekilas persiapan pemerintah dalam menyelenggarakan Pilkada 2020. Pilkada 2020 merupakan Pilkada serentak terbesar karena meliputi 270 pemilihan Kepala Daerah.



"Sejak 2004 hingga 2018, di samping menghasilkan aspek positif, pilkada langsung juga menyimpan berbagai ekses negatif, di antaranya konflik sosial berbasis identitas, keterbelahan masyarakat dalam dua kubu yg bertentangan yang memicu kerawanan sosial serta "high cost" atau berbiaya sangat tinggi," papar Tito dalam diskusi yang berlangsung hangat itu.



"Biaya tinggi pilkada secara langsung telah berpengaruh pada kualitas buruk tata kelola kepemimpinan di daerah," lanjut Tito.



Menurut Tito, jika ekses negatif pilkada ini dibiarkan terus menerus, alam demokrasi di Indonesia akan rusak dan benih-benih konflik sosial di masyarakat akan muncul.



"Karena itu, apa pun nanti hasil kajian akademis dari Universitas terhadap Pilkada langsung, kami terbuka menerimanya," ujar Tito.



Menanggapi hal tersebut, kata Kastorius, perwakilan universitas menyambut positif dan menghargai inisiatif pertemuan dari Mendagri ini.



"Ini adalah kesempatan pertama kami bertemu dengan Mendagri setelah polemik ramai rencana Mendagri mengubah pilkada langsung," ujar Wawan Mas'udi dari Departemen Politik dan Pemerintahan UGM Yogyakarta.



Menurut Wawan, saat ini pemahaman sempit merebak di masyarakat bahwa tujuan Kemendagri hanya dimaknai sebatas perubahan sistem Pilkada dari langsung ke tidak langsung.



"Ternyata tujuan Mendagri adalah evaluasi bersifat komprehensif tentang pilkada langsung di Indonesia guna mereduksi ekses negatif Pilkada serta menyesuaikan dengan kondisi perkembangan masyarakat," ungkap Wawan.



Sementara itu, imbuh Kastorius, Ferry Liando pengajar dari Universitas Sam Ratulangi, memaparkan bahwa universitasnya telah berpengalaman di dalam melakukan riset Pilkada khususnya dari aspek budaya lokal seperti yang diinginkan Mendagri Tito.



Ferry mengungkapkan bahwa bila Mendagri ingin menyesuaikan sistem pilkada dengan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat daerah, itu adalah hal yang sangat patut didukung dan ide ini sangat relevan.



"Kami sangat senang dan bersedia membantu Mendagri untuk melakukan riset akademis untuk perbaikan Pilkada dari berbagai aspek termasuk aspek manajemen konflik sosial," pungkas Ferry.



Sebagai tindak lanjut pertemuan ini, papar Kastorius, pihak universitas akhirnya sepakat untuk mengusulkan riset desain evaluasi bersifat akademis tentang Pilkada langsung ke Kemendagri dalam rangka evaluasi komprehensif pilkada.



Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam bersama Mendagri itu, perwakilan sembilan universitas yang hadir yakni UI, USU, UGM, Universitas Andalas, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Padjadjaran, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook