Ahad, 08 Desember 2019 WIB

Babi Mati di Sumut Sudah 9.421 Ekor

M JawiSenin, 18 November 2019 22:43 WIB
Dokumentasi
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.

Indomedia.co - Jumlah babi yang mati akibat terinfeksi hog cholera di Sumatera Utara, terus bertambah. Sampai saat ini jumlah babi yang mati mencapai 9.421 ekor.


Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Senin (18/11/2019).


Dijelaskan, jumlah itu terhitung sejak merebaknya virus itu pada akhir September 2019. Sebarannya berada di Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun dan Pakpak Bharat.


Terkait upaya penanganan virus, Edy menyatakan, saat ini tim Kementerian Pertanian sudah turun melakukan pengecekan. Nantinya tim ini akan menentukan, bagaimana penanganan lanjutan, termasuk
kemungkinan pemusnahan ternak.


"Timnya baru turun, datang kemari. Hasilnya akan dibawa. Tapi konsekuensinya ini begini, begitu dia benar menyatakan virus tak bisa diatasi, berarti dimusnahkan semua hewan itu," kata Edy.


Persoalannya saat ini, kata Edy, justru penanganan bangkainya. Petugas masih kejar-kejaran dengan orang yang membuang bangkai itu secara sembarangan. Ada yang dibuang ke sungai, hutan dan bahkan di jalanan Kota Medan.


"Bukan menyalahkan yang memelihara babi. Babinya kebetulan sedang ada persoalan virus. Jadi setiap saat mati itu si babi. Nah, yang menjadi persoalan, rakyat tidak mau membuang ke tempat yang tidak mencemari orang lain. Kuburlah, apapun. Hari ini pun masih dibuang lagi di tong sampah," ujar Edy.


Dengan situasi ini, Edy menyatakan pihaknya terpaksa akan bertindak tegas pakai jalur hukum. Ada tiga produk hukum yang bisa menjerat peternak yang membuang bangkai babi itu, termasuk UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Saya terpaksa akan tegas, pakai jalur hukum. Sebenarnya kasihan juga
ya. Sudah dia binatangnya mati, dihukum lagi. Tapi bukan karena binatangnya, karena kelakuan membuangnya itu. Itu kan membuat orang tidak nyaman," ujar Edy. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook