Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

Babi Mati di Sumut Sudah 9.421 Ekor

M JawiSenin, 18 November 2019 22:43 WIB
Dokumentasi
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.

Indomedia.co - Jumlah babi yang mati akibat terinfeksi hog cholera di Sumatera Utara, terus bertambah.
Sampai saat ini jumlah babi yang mati mencapai
9.421 ekor.




Hal tersebut
disampaikan oleh
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, di Kantor Gubernur Sumut, Jalan
Diponegoro, Medan, Senin (18/11/2019).




Dijelaskan, jumlah itu terhitung sejak merebaknya virus itu pada akhir September 2019. Sebarannya
berada di Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Deli
Serdang, Medan, Karo,
Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara,
Tapanuli Tengah, Tapanuli
Selatan, Samosir, Simalungun dan Pakpak
Bharat.




Terkait upaya penanganan virus, Edy
menyatakan, saat ini tim
Kementerian Pertanian sudah turun melakukan pengecekan. Nantinya tim ini akan
menentukan, bagaimana penanganan lanjutan, termasuk

kemungkinan pemusnahan ternak.




"Timnya baru turun, datang kemari.
Hasilnya akan dibawa. Tapi

konsekuensinya ini begini, begitu dia benar menyatakan
virus tak bisa
diatasi, berarti dimusnahkan semua hewan itu," kata Edy.




Persoalannya saat ini, kata Edy, justru
penanganan bangkainya. Petugas
masih kejar-kejaran dengan orang yang membuang
bangkai itu secara
sembarangan. Ada yang dibuang ke sungai, hutan dan bahkan di jalanan Kota Medan.




"Bukan menyalahkan yang memelihara babi.
Babinya kebetulan sedang ada

persoalan virus. Jadi setiap saat mati itu si babi. Nah,
yang menjadi
persoalan, rakyat tidak mau membuang ke tempat yang tidak mencemari orang lain.
Kuburlah, apapun. Hari ini pun masih dibuang lagi di tong
sampah," ujar Edy.




Dengan situasi ini, Edy menyatakan pihaknya
terpaksa akan bertindak
tegas pakai jalur hukum. Ada tiga produk hukum yang bisa menjerat peternak yang
membuang bangkai babi itu, termasuk UU No 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.



"Saya terpaksa akan tegas, pakai jalur hukum. Sebenarnya kasihan juga
ya. Sudah dia
binatangnya mati, dihukum lagi. Tapi bukan karena
binatangnya, karena
kelakuan membuangnya itu. Itu kan membuat orang
tidak nyaman," ujar Edy. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook