Sabtu, 30 Mei 2020 WIB

Fadli Zon: Bencana Asap Karhutla Coreng Diplomasi Sawit Indonesia

Kamis, 19 September 2019 22:02 WIB
dpr.go.id
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.



Indomedia.co - Bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan
(Karhutla) yang sedang terjadi saat ini merupakan etalase buruk bagi perjuangan
diplomasi dagang Indonesia yang sedang berjuang meyakinkan Uni Eropa dan juga
World Trade Organization (WTO) untuk mendukung produk sawit Indonesia.
Pemerintah seharusnya menggunakan bencana Karhutla sebagai alat untuk
membersihkan industri perkebunan sawit nasional dari perusahaan-perusahaan
perusak lingkungan.




“Bencana karhutla
harus digunakan oleh pemerintah untuk membersihkan industri perkebunan sawit
nasional dari perusahaan perusak lingkungan. Menurut saya, cerita ini akan
sedikit memulihkan citra buruk industri sawit kita di mata dunia,” ujar Wakil
Ketia DPR RI Fadli Zon dalam keterangan persnya yang diterima Parlementaria,
Kamis (19/9/2019).




Dilansir dari situs
resmi DPR RI, Fadli mengungkapkan, bagaimana mungkin bisa merayu negara-negara
Eropa untuk terus membuka pasarnya bagi produk sawit Indonesia, ketika pada
saat bersamaan semua tuduhan mereka atas perkebunan sawit Indonesia yang
merusak lingkungan dan melakukan deforestasi justru dikonfirmasi bahwa bencana
karhutla yang 99 persen itu akibat ulah manusia yang sudah terus menerus
terjadi.




Seperti diketahui,
awal tahun ini 28 negara Uni Eropa sepakat untuk memasukkan minyak sawit
Indonesia sebagai kategori tidak berkelanjutan. Sehingga tidak akan digunakan
sebagai bahan baku biodiesel. Uni Eropa menyoroti masalah deforestasi akibat
adanya budidaya sawit yang masif.




“Mulai 2030, Uni Eropa
akan melarang total konsumsi sawit Indonesia. Artinya, sebelum itu mereka akan
mulai mengurangi konsumsi sawit asal Indonesia,” tutur Fadli.




Dari sisi dagang,
sambung Politisi Partai Gerindra ini, keputusan Uni Eropa tersebut tentu saja
merugikan Indonesia. Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri
strategi nasional, khususnya dalam kelompok nonmigas. Meminjam hasil riset
Perkumpulan Prakarsa, minyak sawit merupakan komoditas penyumbang ekspor
terbesar Indonesia selama kurun 1989-2017.




“Saat ini produksi
minyak sawit Indonesia mencapai 44 juta ton sampai dengan 46 juta ton per
tahun, dengan luas lahan sekitar 14 juta hektare. BPPT (Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi) memperkirakan produksi sawit akan mencapai 51,7 juta ton
pada 2025,” ungkap Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan
ini.




Ironisnya, lanjut
Fadli, peningkatan produksi sawit tadi berbanding terbalik dengan pasar ekspor
nasional yang tengah menghadapi ancaman boikot. Berdasarkan data Gabungan
Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pada 2018 ekspor sawit Indonesia ke
Eropa mencapai 4,7 juta ton.




“Dari jumlah itu, 60
persen diantaranya digunakan untuk bahan bakar nabati (biofuel). Jumlah ekspor
ke Eropa itu mencapai 14 persen dari total ekpor sawit Indonesia secara
keseluruhan. Bisa dibayangkan apa jadinya jika Uni Eropa sepenuhnya
menghentikan impor sawit dari Indonesia,” ujar Fadli.




Fadli menyayangkan, pemerintah
belum terbuka dalam melakukan audit industri sawit. Padahal, audit terbuka
merupakan bagian dari kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).




“Seharusnya seluruh
perusahaan sawit diperiksa oleh auditor independen yang bertugas memverifikasi
apakah betul industri sawit kita tidak mendegradasi lingkungan atau melakukan
‘land cleansing’ dengan cara-cara yang merusak lingkungan,” pungkas Fadli. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook