Senin, 01 Juni 2020 WIB

Hoaks, Ambon dan Seram Akan Hilang Akibat Patahan

Suwardi SinagaSabtu, 12 Oktober 2019 18:00 WIB
Screeshot
Screenshot hoaks, Ambon dan Seram akan hilang akibat patahan.

Indomedia.co - Beredar luas melalui media sosial, berita
palsu atau hoaks tentang posisi Ambon lease
tepat di atas tebing jurang paling laut paling dalam dunia. Berita ini tidak
benar sehingga masyarakat tidak perlu panik atau khawatir terkait dengan
kondisi yang berkembang akhir-akhir ini.



Hal itu ditegaskan
oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) Agus Wibowo dalam keterangan tertulisnya kepada awak media,
Sabtu (12/10/2019).




Dijelaskan, melalui
pesan yang disampaikan oleh Ahli Tsunami BNPB Abdul Muhari kepada mantan
Gubenur Maluku Karel Ralahalu, Jumat (11/10/2019), beberapa penjelasan
diberikan terkait kabar viral potensi tsunami di Maluku, khususnya Ambon dan Seram.




Muhari menyampaikan
bahwa berita viral tersebut adalah hoaks. Gambar batimetri yang diedit
sedemikian rupa dan diberikan keterangan seakan-akan ilmiah tetapi bertujuan
untuk menyebarkan ketakutan kepada masyarakat.




"Gambar tersebut
bukanlah foto satelit 3D karena satelit tidak bisa membuat foto dasar laut
apalagi hingga kedalaman 7 km di bawah permukaan laut. Gambar tersebut hanyalah
data batimetri biasa (tersedia banyak di internet), yang kemudian diberi efek
ketinggian dan kedalaman yang lebih signifikan seakan-akan data ini baru
padahal data ini adalah data lama dan data biasa saja," ujar Muhari
melalui pesan digital.




Muhari menyampaikan
bahwa asumsi jika terjadi gempa dari palung Banda akan menyeret Pulau Ambon dan
Seram adalah tidak benar.




Belum ada dalam
sejarah gempa dan tsunami di dunia ada gempa yang menghilangkan satu pulau
sebesar Ambon, apalagi sebesar Pulau Seram.







Screenshot hoaks, Ambon
dan Seram akan hilang akibat patahan.


Muhari juga mengatakan
bahwa jika gempa di kawasan Maluku berpotensi menimbulkan longsoran lokal
seperti yang terjadi di Palu Tahun 2018 lalu, atau di Semenanjung Elpaputih Tahun
1899 benar adanya, tetapi skalanya lokal.




"Ini harus kita
sikapi dengan bijak dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan persiapan
rencana evakuasi mandiri yang baik," sambung Muhari yang pernah bekerja di
Kementerian Kelautan dan Perikanan.




Terkait dengan sebuah
penelitian potensi patahan palung Banda oleh Jonathan M Pownal Gordon S Lister
dan Robert Hall, ia menyampaikan bahwa penelitian tadi telah dipublikasikan
pada 2016.




"Jadi bukan yang
baru saja dipublikasikan," tegas Muhari.




Penelitian tersebut
tidak membahas sama sekali mengenai potensi tsunami atau potensi gempa yang
bisa menyeret Pulau Ambon dan Seram.




"Bahkan, dalam
hasil penelitian tersebut sangat jelas disebutkan bahwa tidak ada bukti bahwa
segmen palung Banda tersebut adalah segmen seismik aktif. Jadi jika ada berita
atau tulisan yang mengkaitkan hasil penelitian tersebut dengan
prediksi-prediksi kejadian gempa atau tsunami yang akan terjadi di Ambon maka itu
adalah hoaks," ujar Muhari.




Sehubungan dengan
berita viral yang beredar di media sosial, jejaring sosial digital maupun dari
mulut ke mulut, masyarakat diimbau untuk tidak terpancing terhadap berita palsu
tadi. Berita seperti ini sengaja ditimbulkan untuk menimbulkan rasa khawatir,
panik dan takut di tengah-tengah masyarakat.




Masyarakat diharapkan
untuk mengecek informasi resmi potensi bahaya dan parameter gempa atau tsunami
dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB atau pun BPBD setempat untuk menyikapi berita
atau informasi yang tidak benar. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook