Jumat, 03 April 2020 WIB

Imbauan Pemda Menunda Mudik Selaras Kebijakan Kemendagri

Suwardi SinagaKamis, 26 Maret 2020 15:25 WIB
Dokumentasi
Mendagri Tito Karnavian.

Indomedia.co - Imbauan beberapa pemerintah daerah agar warga menunda mudik untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 selaras dengan keinginan Kemendagri.


"Kebijakan diam di rumah, work from home, mengurangi perjalanan ke luar kota, physical distancing dan meniadakan acara kerumunan orang banyak yang sudah dicanangkan oleh Kemendagri ke seluruh pemda, sebenarnya, juga bermakna sama dengan anjuran penundaan untuk mudik massal dalam rangka jelang lebaran yang sudah mendekat itu," ujar Mendagri Tito Karnavian dalam keterangan tertulis Staf Khusus Mendagri Kastorius Sinaga kepada Indomedia.co, Kamis (26/3/2020).


Mendagri Tito Karnavian mengapresiasi langkah dan pendekatan pemerintah daerah, seperti yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang menghimbau warganya untuk menunda mudik.


Juga menilai positif langkah terobosan Gubernur Jateng itu yang membangun komunikasi dan kerja sama dengan provinsi asal mudik, seperti Jabodetabek dan Jabar, untuk sosialisasi gerakan tunda mudik tahun ini.


"Tentu dalam tingkat implementasi, kita paham juga bahwa upaya tersebut tidak berarti akan mampu mencegah arus mudik secara total keseluruhan," katanya.


Hal yang kongkrit yang dapat dilakukan bersama antara pemerintah bersama stakeholder lainnya adalah larangan atau pembatasan dengan superketat acara mudik bareng tahun ini yang kita tahu sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun dan dilakukan oleh berbagai perusahaan, pemda, kementerian/lembaga termasuk ormas.


"Dari data yang kita miliki, bila kita dapat mereduksi secara signifikan jumlah dan frekwensi program mudik bareng maka volume arus mudik dari kota-kota besar seperti Jabodetabek, yang merupakan episentrum penyebaran Covid-19, akan dapat ditekan secara signifikan," ujar Mendagri.


"Bersama Gugus Tugas Covid-19 pembatasan secara ketat acara mudik bareng tahun ini sedang dipertimbangkan matang sebagai kebijakan," imbuh Tito.


Biasanya, mudik bareng sangat identik dengan pengumpulan massa besar yang berdesakan, baik di saat pemberangkatan, di perjalanan hingga di ketibaan.


"Seperti kita tahu, mudik bareng cukup melelahkan dan pastinya mengakibatkan stamina ketahanan tubuh peserta mudik drastis ngedrop dan menjadi sasaran empuk serangan Covid-19," ungkap Tito.


Laporan riset WHO telah menunjukkan bhw penularan Covid-19 sudah bersifat aerosol, yaitu transmisi lewat tumpangan partikel di udara. Otomatis mudik bareng, utamanya lewat moda transportasi darat, kereta api yang memakan waktu berjam-jam di perjalanan dengan kondisi sesak penumpang tentu menjadi ground field penularan Covid-19 secara masif.


Dalam berbagai surat edaran dan juga kunker Mendagri Tito ke empat provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Provinsi Sumatera Selatan, Tito sudah mengingatkan para gubernur untuk segera mengambil langkah-langkah detail di lapangan untuk antisipasi mudik jelang lebaran.


Hal yang perlu diingat juga adalah tentang rapid tes Covid-19 yang sudah dimulai dilakukan di daerah-daerah, khususnya di wilayah yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 seperti DKI dan Jabar.


Mendagri Tito mengingatkan agar kepala daerah benar-benar mengikuti protokel rapid test secara seksama guna menghindari efek penularan akibat berdesakan di saat test.


Mendagri Tito menyatakan bahwa rapid test ini akan otomatis berdampak pada menurunnya mobilitas arus mudik karena mereka yang positif dan masuk kategori ODP dan tentu akan tertunda mobilitasnya karena akan mengikuti program pengawasan atau karantina. Proses ini akan juga menghambat penularan ke desa tujuan mudik.


Mendagri Tito mengatakan bahwa kementeriannya bersama Gugus Tugas Covid-19 dan pemda serta instansi lainnya akan bekerja maksimal. Ini merupakan pembelajaran penting bagi birokrasi pusat dan daerah untuk menerapkan aneka kebijakan bersifat makro kita implementasikan secara detail dan terkendali hingga di tingkat praksis dan mikro, pungkas mantan Kapolri itu. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook