Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

Kabid Penmad Kemenag Sumut Paparkan Tantangan Pendidikan Madrasah Pascapandemi Covid-19

Suwardi SinagaSabtu, 30 Mei 2020 21:17 WIB
Istimewa
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama Kabid Penmad Kemenag Sumut KH Mustafid MA.

Indomedia.co - Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara KH Mustafid MA mengatakan ada tiga tantangan berat yang dihadapi oleh pendidikan madrasah ke depan pascapandemi Covid-19.

Tantangan pertama adalah kualitas sumber daya manusia dan manajemen yang modern, tantangan kedua bagaimana menghadapi arus perubahan teknologi dan industri 4.0, dan tantangan ketiga adalah tentang moderasi beragama.

"Institusi pendidikan punya peran yang strategis untuk membentuk sumber daya yang andal. Karena intitusi pendidikanlah tempat yang paling tepat untuk membina, menempa, membentuk sebuah generasi muda yang berkualitas dan

bertakwa. Untuk menjawab generasi muda andal yang dilahirkan dari rahim madrasah, maka modernisasi sistem penyelenggaraan pendidikan di madrasah menjadi keharusan. Pola manajemen madrasah harus disesuaikan dengan manajemen modern. Untuk itu harus ada pelatihan yang intensif kepada kepala madrasah mengenai manajemen berbasis madrasah yang modern," ujar Mustafid di Medan, Sabtu (30/5/2020).

Kemudian perubahan teknologi industri juga harus direspon secara cepat oleh institusi pendidikan, khususnya madrasah, karena saat ini hanya dengan duduk dan tiduran, anak-anak sudah bisa berselancar kemana-mana. Anak-anak pun bisa memesan apa saja yang diinginkan dari lokasi ia berada tanpa perlu bersusah-susah.

"Perubahan teknologi industri yang tak terbendung dari 1.0 di mana tenaga digantikan dengan mesin, 2.0 mesin dilengkapi sistem komputer, 3.0 munculnya internet hingga era industri 4.0 yang sangat digital dan artificial intelligent, meniscayakan dunia pendidikan untuk menyesuaikan dengan zamannya," katanya.

Menurutnya, bisa jadi dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, siswa siswi madrasah tidak memerlukan ruang kelas lagi. Sebab dunia mereka sudah melampaui batas ruang dan waktu. Dalam industri 4.0 membicarakan ruang dan waktu sudah tidak lagi relevan. Untuk itu guru, tenaga kependidikan dan pemegang kebijakan pendidikan madrasah harus update pengetahuan teknologi, cepat dalam mengadaptasi teknologi sekaligus dapat mengantisipasi dampak negatifnya, ucap Mustafid yang juga Ketua LP Ma'arif PWNU Sumut.

Tantangan ketiga yang lebih berat adalah persoalan memudarnya rasa kebangsaan dan penyusupan ideologi transnasional di masyarakat bahkan di lingkungan madrasah.

"Saat ini rasa ke-Indonesiaan sebagian anak bangsa mulai tergerus. Indonesia sebagai negara berada dalam periode genting. Persatuan dan kesatuan bangsa sedang diuji oleh ancaman gerakan politik puritanisme Islam dan penyusupan ideologi transnasional. Sudah banyak anak bangsa yang terpapar ideologi khilafah dan berani secara terang-terangan berkampanye memperjuangkan gagasan syariat dan negara Islam di bawah kepemimpinan tunggal khalifah Islamiyah," katanya.

Mustafid melanjutkan, gerakan dan kampanye khilafah tersebar dan terstruktur hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kampus, BUMN bahkan hingga para pelajar. Hal ini tentu saja berpotensi terjadi gesekan di masyarakat yang dapat menimbulkan konflik horizontal bahkan vertikal.

Mustafid mengatakan agama tidak boleh dipahami secara ekstrem, baik ekstrem kanan yang literalis maupun ekstrem kiri yang liberal. Untuk itu para guru dan pengambil kebijakan harus beres pemahaman keagamaan dan wawasan

kebangsaanya berbasis Pancasila, kebhinnekaan, NKRI dan UUD 45. Selain itu lingkungan dan fasilitas madrasah harus dibuat sedemikian kondusif agar peserta didik bisa belajar secara sehat.

Oleh sebab itu, pendidikan madrasah mampu menjawab tiga tantangan tersebut melalui tiga unsur penting, yakni aktor (para guru, tenaga kependidikan, stakeholder), lingkungan dan fasilitas, tuturnya. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook