Ahad, 23 Februari 2020 WIB

Keluarga Minta Pendemo Jangan Musuhi Polisi

Suwardi SinagaAhad, 29 September 2019 19:17 WIB
Istimewa
Siti Romlah menunggui adik kandungnya Baratu Rafifuljana, yang dirawat di RS Polri, Kramatjati, Sabtu (28/9/2019). Baratu Rafifuljana terluka akibat terkena lemparan batu pendemo.

Indomedia.co - Sejumlah keluarga
polisi yang menjadi korban kekerasan mahasiswa/pelajar dalam aksi demonstrasi
menuntut penolakan revisi UU KPK dan RUU lainnya menyesalkan tindakan anarkis
sejumlah oknum pendemo. Para pendemo tidak seharusnya memusuhi polisi, karena
mereka hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.




“Kami sedih sekali karena keluarga kami
yang menjadi anggota Polri mengalami musibah seperti ini kala bertugas. Kami
berharap tidak ada demo anarkis seperti ini lagi,” ujar Siti Romlah, salah
seorang anggota keluarga polisi yang menjadi korban bentrokan pendemo-polisi
saat ditemui di RS Polri, Kramatjati, Sabtu (28/9/2019).




Kakak kandung Baratu Rafifuljana yang
mengalami luka patah tulang hidung akibat lemparan batu ini menuturkan bahwa
adiknya terluka ketika bertugas mengawal demonstrasi mahasiswa di Kantor DPR
RI, Jakarta. Adiknya mengalami patah tulang hidung karena helm yang digunakan
pecah akibat lemparan batu.




“Saya berharap, para mahasiswa jangan
menjadikan polisi sebagai musuh, tapi seharusnya mereka berterima kasih dengan
kehadiran polisi dalam mengatur ketertiban umum,” harap Siti.




Hal senada disampaikan Maria Pardede, ibu
kandung Bripda Slamet R Sihombing yang menderita patah tulang bahu akibat
lemparan batu.




“Harapan saya kalau demo damai-damai saja.
Peristiwa kemarin sungguh mengerikan, polisi seperti anak saya hanya menjaga
ketertiban saja, dan bukan musuh para mahasiswa,” katanya.




Maria menuturkan saat anaknya mengalami
musibah itu, anaknya sama sekali tak memberi tahu dia dan keluarganya.




“Dia cuma menanyakan kondisi satu persatu
keluarga kami, padahal saat itu dia sendiri sudah mengalami luka parah,”
katanya.




Menurut Kasubdit Kedokteran Forensik RS
Polri dr Lastri, selama sepekan kemarin sebanyak 39 orang anggota Polri (di
luar mahasiswa) menjadi korban bentrokan. Rata-rata mereka mengalami luka-luka
di bagian kepala akibat lemparan batu dan pukulan benda tumpul.




“Dari 29 orang anggota Polri yang dirawat,
15 terpaksa dirawat inap bahkan tujuh orang yang masih dirawat intensif sampai
hari ini (Sabtu, 28/9/2019) karena baru saja menjalani operasi. Sementara
sisanya bisa langsung pulang karena hanya mengalami luka ringan,” ujar Lastri. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook