Rabu, 08 April 2020 WIB

Kepala BNPB Ajak Warga Huta Bargot Mandailing Natal Tambang Emas Hijau

Suwardi SinagaJumat, 29 November 2019 15:12 WIB
Istimewa
Kepala BNPB Doni Monardo berkunjung ke Huta Bargot, Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis (28/11/2019).



Indomedia.co - Kepala BNPB Doni Monardo
mengajak warga Huta Bargot Nauli dan Huta Bargot Julu untuk menambang emas
hijau, seperti alpukat dan kemenyan. Doni juga meminta warga setempat untuk
melihat kembali dampak negatif penambangan emas, baik terhadap lingkungan dan kesehatan
warga setempat.



Hal tersebut disampaikan Doni saat berkunjung
di Desa Huta Bargot Nauli, Mandailing Natal, Sumatera Utara
, Kamis (28/11/2019).




Dialog antara Doni bersama Bupati Mandailing
Natal Dahlan Hasan Nasution serta  aparat
pemerintah desa, kecamatan dan warga Desa Huta Bargot bertujuan untuk mendengar
keprihatinan warga dan menyikapi penambangan emas yang tidak ramah lingkungan,
seperti penggunaan merkuri.




Di hadapan warga Huta Bargot, Doni mengatakan
banyak pilihan untuk menopang kehidupan warga. Doni menggagas program emas
hijau yang dapat dilakukan oleh warga setempa
t, khususnya mereka penambang emas yang masih
menggunakan merkuri. Doni  menyatakan
sejak berada di Mandailing Natal, melihat pohon tumbuh sangat baik yang artinya
tanah di sini subur.




"Kami menawarkan kepada pemda dan
masyarakat untuk mengganti mata pencaharian dari menambang emas menjadi emas
hijau berupa bercocok tanam dengan menanam pohon-pohon yang menghasilkan nilai
jual tinggi," ujar Doni.




Doni juga mengilustrasikan pemanfaatan emas
hijau di jaman penjajahan Belanda. Melalui pemanfaatan hasil alam, VOC sebagai
perusahaan Belanda mampu memiliki kekayaan USD 7,9 tril
iun dan menempatkan dalam
catatan historis sebagai perusahaan terkaya di dunia.




"Mari ciptakan emas dari
tumbuh-tumbuhan," ucap Doni pada kesempatan berbeda di hadapan pejabat
daerah, pemuka adat, pemuka agama di lingkungan
Mandailing Natal.




Dengan menanam pohon, selain dapat menghasilkan
nilai ekonomi bagi masyarakat dapat juga menjaga lingkungan yang berdampak bagi
anak cucu di masa mendatang.




"Pohon alpukat, sukun, masoya, kemenyan
dan kayu manis hanya memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat dipanen dan
dijual ke daerah lain hingga diekspor ke negara tetangga dan juga lingkungan
akan lebih terjaga dibandingan menambang emas ilegal menggunakan merkuri
," paparnya.




Sementara itu, penambangan dengan merkuri
telah berdampak pada kesehatan warga setempat. Dinas Kesehatan
Mandailing Natal mencatat tujuh kasus anak meninggal
dunia akibat terpapar merkuri. Kasus tersebut teridentifikasi sejak 2013 lalu,
sedangkan penambangan emas warga marak 9 tahun lalu.




Penambangan ilegal di Huta Bargot Nauli telah
berlangsung sejak
Tahun 2009 hingga sekarang.




"Sejak adanya penambangan emas di sini,
warga lebih sejahtera, kami bisa menyekolahkan anak dan dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari, namun kami juga menyadari bahwa penambangan ilegal
tersebut membahayakan bagi kami," ujar Ahmad Rohan selaku Kepala Desa.




Warga lain, Sutan, mengatakan bahwa
penghasilan dari menambang emas lebih besar dibandingkan bertanam karet. Bapak
yang terlihat lambat dalam merespon pertanyaan ini mengaku belum memahami
dampak bahan kimia berbahaya yang digunakan untuk pengolahan emas.




Hal senada dilontarkan Alimusha, meskipun dia
menggunakan sarung dan masker saat bekerja menggunakan bahan merkuri.




Bupati Mandailing Natal Dahlan
Hasan Nasution
menyampaikan bahwa pemerintah daerah
berharap mendapatkan solusi terkait penambangan emas ilegal tersebut
.




"Dampak dari penambangan ilegal
menggunakan merkuri sangat buruk bagi masyarakat, beberapa bayi lahir tidak
sempurna diduga akibat orang tuanya terpapar merkuri saat menambang emas, oleh
karena itu kami meminta pemerintah pusat ikut membantu mencari solusi,"
ucap Dahlan.




Pada satu kesempatan setelah berkunjung di
Desa Huta Bargot, Bupati
Mandailing
Natal
menghadirkan dua keluarga bayi yang lahir cacat
kemudian meninggal dimana BNPB memberikan bantuan uang kepada keluarga
tersebut. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian BNPB serta
akan memanfaatkan bantuan untuk modal usaha dan meninggalkan usaha penambangan
emas.




Perlu diketahui, Presiden Joko Widodo telah
menandatangani Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2017 tentang pengesahan Minamata Convention on Mercury
(Konvensi Minamata Mengenai Merkuri). Undang-undang tersebut dijadikan sebagai
dasar hukum pengelolaan merkuri dan senyawa merkuri di wilayah NKRI, dan
mengurangi atau mencegah gangguan kesehatan akibat pajanan atau paparan merkuri
serta mengurangi beban dan kerugian negara dari kerusakan dan pencemaran
lingkungan.




Di samping bahaya penggunaan merkuri,
lokasi  dalam penambangan emas berada di
daerah yang rawan bahaya gempa bumi dan longsor. Dilihat dengan cepat
menggunakan aplikasi InaRisk, lokasi penambangan berada di daerah gempa dan
longsor dengan kategori risiko tinggi. Dengan penambangan dan pengelolaan tanpa
melihat dampak lingkungan, potensi bahaya akan meningkat, seperti banjir dan
longsor di saat musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.




Sebelum
bertolak menuju
Mandailing Natal,
Kepala BNPB dan rombongan melihat 
penambangan emas dan perak Martabe di Tapanuli Selatan, sebuah kabupaten
yang berbatasan dengan
Mandailing
Natal
.
(***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook