Ahad, 08 Desember 2019 WIB

KPK Tetapkan Dirut PTPN III Tersangka

Rabu, 04 September 2019 10:53 WIB
Dokumentasi
Gedung KPK.

Indomedia.co - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) Dolly Pulungan (DPU), Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana (IKL), dan serta pemilik PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi (PNO) sebagai tersangka kasus dugaan suap distribusi gula di PTPN III.


Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2019).


Syarif menjelaskan, Dolly dan Kadek Kertha Laksana diduga menerima hadiah atau janji terkait distribusi gula di PTPN III Tahun 2019 dari Pieko yang memiliki bisnis di bidang distribusi gula.


Kasus ini bermula saat Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema 'long term contract' dengan PTPN III.


Dilansir dari liputan6.com, dalam kontrak tersebut, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan.


Selama kontrak di PTPN III terdapat aturan internal mengenai kajian penetapan harga gula bulanan.


Pada penetapan harga gula tersebut, harga gula disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula (Pieko), dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI), ujar Syarif.


Kemudian, pada 31 Agustus 2019 terjadi pertemuan antara Pieko, Dolly, dan Ketua Umum Dewan Pembina APTRI di Hotel Shangrila.


Syarif menyebutkan Dolly meminta uang ke Pieko lantaran membutuhkan uang terkait persoalan pribadinya.


Menindaklanjuti pertemuan tersebut, Dolly meminta Kadek untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya, beber Syarif.


Syarif menyatakan uang senilai SGD 345 ribu diduga merupakan 'fee' terkait dengan distribusi gula yang termasuk ruang lingkup pekerjaan PTPN III.


Sebagai penerima Dolly dan Kadek disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


Sementara itu, Pieko sebagai pemberi disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook