Ahad, 05 Juli 2020 WIB

Memasuki Musim Penghujan, Siapkan Upaya Pencegahan Bencana Hidrometeorologi

Suwardi SinagaSenin, 21 Oktober 2019 23:35 WIB
Dokumentasi
Kepala BNPB Doni Monardo.

Indomedia.co - Musim penghujan Tahun 2019 di Indonesia akan
masuk pada akhir Oktober hingga pertengahan November, sebagaimana menurut
perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Masa peralihan
dari musim kemarau menuju musim penghujan ditandai dengan beberapa gejala alam
yang disebut pancaroba seperti berubahnya suhu dan cuaca secara drastis,
munculnya mendung tebal disertai petir, gelombang pasang air laut, angin kencang
hingga angin puting beliung.




Musim penghujan
sendiri dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti tanah
longsor dan banjir dengan ditambah beberapa faktor seperti lingkungan yang
tidak terawat dengan baik, alih fungsi hutan pegunungan, dan budaya membuang
sampah sembarangan.




Oleh karena itu, Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau agar masyarakat mulai
melakukan persiapan dini dalam menghadapi peralihan musim tersebut melalui
upaya-upaya pencegahan seperti memangkas daun dan ranting terutama untuk
pohon-pohon yang besar, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan
lingkungan, membersihkan saluran air hingga sungai, selalu membawa payung atau
jas hujan selama beraktivitas di luar ruangan, dan selalu memperbarui informasi
perkiraan cuaca yang bersumber dari pihak berwenang.




Sedangkan untuk upaya
jangka panjang, masyarakat bisa melakukan penanaman pohon yang dapat mencegah
terjadinya longsor sekaligus mengikat air tanah sebagai cadangan saat kemarau
panjang tiba. Adapun beberapa jenis pohon tersebut di antaranya; beringin
karet, matoa, jabon putih, sukun, mahoni dan sebagainya.




Menurut BMKG,
terlambatnya musim penghujan di Indonesia juga dipengaruhi oleh fenomena El
Nino yang panjang pada tahun ini. Hal tersebut sekaligus berdampak pada bencana
kekeringan panjang di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, kemarau
panjang juga telah menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, yang
banyak dipengaruhi oleh faktor manusia.




"Menurut berbagai
inteview dan data lapangan
menunjukkan lahan yang terbakar ini 80% berubah jadi lahan perkebunan. Oleh
karena itu bisa disimpulkan bahwa 99% karhutla disebabkan oleh ulah
manusia," kata Kepala BNPB Doni Monardo dalam keterangan tertulis yang
diterima awak media, Senin (21/10/2019).




Menurut data yang
dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas
kebakaran hutan hingga Agustus 2019 mencapai 328 ribu hektar dan tersebar di
beberapa provinsi seperti; Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Riau,
Sumatera Selatan, Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. Upaya-upaya pemadaman
karhutla sudah dilakukan BNPB seperti melalui pemadaman darat oleh tim
gabungan, pemadaman udara dengan water
bombing
dan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan menaburkan
benih garam (NaCl) ke bibit-bibit awan. Kendati demikian, upaya tersebut belum
cukup maksimal.




Kepala BNPB menyatakan
bahwa hal tersebut dikarenakan kedalaman gambut sendiri mencapai hingga 36
meter di dalam tanah. Sehingga satu-satunya solusi untuk karhutla adalah hujan.




Namun, Kepala BNPB
memiliki solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang selalu
ada dari tahun ke tahun tersebut melalui upaya pencegahan, sebagaimana yang
telah dimandatkan oleh Presiden Joko Widodo dalam Rapat Koordinasi Karhutla di
Riau pada September 2019 lalu.




Bentuk upaya
pencegahan itu meliputi pemberdayaan masyarakat daerah karhutla sebagai pelaku
utama agar ke depannya tidak lagi melakukan pembakaran hutan dan lahan dengan
tujuan pembukaan lahan.




"Jika selama ini
warga dibayar untuk membakar, maka kita akan bayar mereka untuk tidak
membakar," kata Doni Monardo.




Selain itu, alternatif
yang lain adalah dengan melakukan gerakan budidaya jenis tanaman produktif yang
dapat ditanam di lahan gambut dan menghasilkan pundi-pundi ekonomi seperti
nanas, buah naga, cabai, kopi liberica, sagu, sukun dan sebagainya.




Gambut sendiri
merupakan vegetasi yang seharusnya basah dan berair. Membiarkan gambut yang
kering berarti membiarkan gambut menjadi 'batubara muda'. Oleh sebab itu,
dengan mengembalikan kodrat gambut yang basah dengan membuat kanal air juga
menjadi salah satu alternatif untuk mencegah terjadinya karhutla agar tidak
merugikan manusia dan juga alam seisinya. Sehingga dengan kita jaga alam maka
alam jaga kita. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook