Ahad, 12 Juli 2020 WIB

Mendagri: Pemimpin Diuji di Saat Krisis

Suwardi SinagaSelasa, 05 Mei 2020 10:19 WIB
Istimewa
Mendagri Tito Karnavian didampingi Walikota Depok Muhammad Idris memberikan keterangan kepada awak media, Senin (4/5/2020).

Indomedia.co - Dalam kunjungan kerjanya ke Depok, Senin (4/5/2020), Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan, antara kesehatan dan ekonomi tidak bisa zero sum game alias saling meniadakan. Dalam pandangan Tito, kedua-duanya penting untuk ditangani secara bersama-sama.

Tito juga tidak memungkiri, Covid-19 memiliki dampak perekonomian yang besar di tanah air. Penerimaan pajak dari ekspor kelapa sawit dan sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan devisa menurun. Dampaknya tentu saja memukul anggaran daerah karena dengan sendirinya pula transfer anggaran dari pusat dan daerah turun. Begitu juga dengan pendapatan asli daerah seiring berkurangnya aktivitas ekonomi di daerah yang terdampak.

Di sisi lain, lanjut Tito, kebutuhan belanja semakin tinggi karena pengeluaran kesehatan meningkat, kebutuhan hidup masyarakat yang dibatasi untuk keluar rumah juga memerlukan jarring pengaman sosial yang juga harus disiapkan oleh pemerintah. Terlebih lagi Pemerintah Kota Depok yang sudah lebih dari 2 pekan menerapkan PSBB.

"Karena ini menyangkut nyawa manusia," ucap Tito prihatin dalam siaran pers Staf Khusus Mendagri Kastorius Sinaga yang diterima awak media, Selasa (5/5/2020).

"Situasinya memang dilematis. Tapi kita harus menemukan solusi bagaimana Covid-19 dapat diatasi sekaligus perekonomian tidak semakin bertambah parah. Karena persoalan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Antara penanganan Covid-19 atau terus menggerakkan roda perekonomian, mana yang lebih diutamakan? Ini tidak bisa dilihat dari perspektif zero sum game. Karena dua-duanya penting," ujar Tito saat memberikan arahan di depan Walikota dan Forkompimda.

Dua-duanya, lanjut Tito, harus ditolong. Atur strategi keseimbangan,Kesehatan masyarakat penting tapi ekonomi juga tak kalah penting.

"Ujian kepemimpinan itu ada di saat krisis, bukan di saat normal. Coba mengeluarkan jurus silat bagaimana menangani Kesehatan sebaik mungkin tapi sekaligus tidak membiarkan ekonomi tidak mandeg, tetap bergerak meskipun melambat," ujar Tito.

"Bagaimana mencegah agar jangan sampai tertular, putus mata rantai penularan. Dan ini perlu pemahaman cara penularan dan kekuatan virus itu sendiri. Dalam menghadapi Pandemi Covid-19 semua negara sudah menggunakan terminology perang. Para ahli strategi mengatakan, kenali musuhmu dan kenali dirimu sendiri maka anda akan memenangi seribu pertempuran," kata Tito.

Tito juga menjelaskan berdasarkan informasi dari berbagai sumber terpercaya, kekuatan Covid-19 ada di percepatan penularan dan membahayakan, karena langsung menyerang sistem pernafasan. Namun informasi itu, ujar Tito, belum tersosialisasi dengan baik ke masyarakat. Selanjutnya perlu menggerakkan masyarakat agar saling bergotong royong memutus mata rantai penularan, dengan cara wajib mengenakan masker. Tito menganjurkan, penggunaan masker N95 lebih baik untuk tenaga medis, sedangkan masyarakat bisa menggunakan masker kain yang terbukti mampu mencegah penularan lebih dari 80 persen. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook