Ahad, 20 Oktober 2019 WIB

Nelayan Tapanuli Tengah Takut Melaut Akibat Kabut Asap

M JawiRabu, 18 September 2019 19:56 WIB
Istimewa
Nelayan di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara takut melaut akibat kabut asap kiriman dari karhutla di Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Indomedia.co - Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung menyebabkan nelayan di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara takut melaut.


Salah seorang nelayan, Ucok Pasaribu mengatakan bahwa nelayan di sana sudah lebih dari sepekan tidak melaut, karena kabut asap yang melanda wilayah tersebut. Sebagian besar nelayan di sana merupakan nelayan tradisional yang tak memiliki alat navigasi yang memadai.


"Hampir sepekan, nelayan di sini takut melaut. Karena kabut asap yang tebal ini, kami takut nyasar," kata Ucok, di Pandan, Rabu (18/9/2019).


Menurut Ucok, kabut asap di wilayah itu, makin pekat dan membatasi jarak pandang nelayan. Padahal, nelayan di sana hanya mengandalkan jarak pandang untuk melaut, karena tak memiliki alat navigasi modern.


"Gimana, kami mau melaut. Sedangkan alat kami tradisional tidak ada navigasi di perahu," ucapnya.


Menurut Ucok, nelayan di sana bisa saja melaut hingga ke tengah. Tapi, yang mereka khawatirkan adalah dengan jarak panjang yang semakin terbatas itu, mereka tak bisa pulang ke darat.


"Jangan-jangan nelayan bisa nyasar, atau bahkan bisa sampai ke Samudera Hindia kalau tidak ada alat penunjuk arah," ujarnya.


Ketakutan mereka untuk tidak melaut mencari ikan cukup berasalan. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya, dengan kondisi udara yang sama, banyak pelaut di sana yang tersesat. Belum lagi dengan kondisi cuaca saat ini yang mulai memasuki musim penghujan. Kadang hujan datang disertai angin kencang sehingga gelombang laut cukup tinggi.


"Sementara sebagain besar kami (nelayan)  di sini, hanya menggunakan perahu-perahu kecil untuk melaut dan menangkap ikan," terang Ucok.


Ucok juga mengungkapkan bahwa akibat tidak melaut lebih dari sepekan ini penghasilan nelayan menjadi berkurang. Mereka hanya berani menangkap ikan di pinggir laut.


"Kami sekarang nangkap ikan hanya di pinggir pantai saja dan hasilnya pun jauh dari prediksi nelayan. Daripada kami nekat ke tengah laut, nyasar dan tenggelam. Risikonya lebih besar," ungkapnya. (***)


Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook