Ahad, 20 Oktober 2019 WIB

Personel Polda Sumatera Utara Atasi Trauma Anak-anak Korban Erupsi Sinabung

SuhardimanSelasa, 27 Februari 2018 21:48 WIB
Istimewa
Tim Psikologi Polda Sumatera Utara ambil bagian dalam upaya mengatasi trauma anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo.

Indomedia.co - Tim Psikologi Polda Sumatera Utara ambil bagian dalam upaya mengatasi trauma anak-anak korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo.

Anak-anak diajak bermain mulai dari menembak, uji ingatan dan kekompakan.

"Mari kita berlatih," kata AKP Raswan memandu permainan, Selasa (27/2/2018).

Mendapat ajakan itu, anak-anak korban erupsi langsung berlari ke halaman depan panggung. Mereka pun membentuk barisan.
Kelas dibagi rata, ada kelas kecil dan kelas besar. Masing-masing kelas dikawal oleh Polwan.

AKP Raswan memberikan pelatihan dengan pertanyaan-pertanyaan umum, yang mengasah kepintaran anak-anak agar melupakan
erupsi Sinabung.

"Ingat nama negara di samping kalian dan lakukan penunjunkan lalu tembak," ujarnya dengan pengeras suara.

Kegiatan tersebut pun mendapat respon dari warga setempat. Mereka berbaur dengan peserta dan personel yang hadir. Sesekali warga tertawa melihat dan mendengar pelatihan yang diberikan kepada anak-anak mereka.

"Kami senang kali nak. Biasanya anak-anak kami cerita gunung saja. Ini orang itu ketawa-ketawa," ungkap warga bermarga Sembiring.

Hal senada dikatakan Beru Tarigan. Ia mengaku, erupsi Gunung Sinabung membuat desa mereka terkena abu. Anak-anak rentan terkena penyakit.

Mereka ketakutan, kapan saja Sinabung meletus pasti akan kena. Namun, para orangtua yang tinggal di kampung tetap
memberikan cerita yang bagus agar anak-anak tidak takut.

"Kami bilangkan sama Pak Kapolda bujur. Kami senang melihat anak-anak tertawa," ungkapnya.

Erusi Gunung Sinabung beberapa hari lalu juga meninggalkan trauma bagi siswa SD 046417. Tanta Sembiring, Ibnu Tarigan, Erianda dan Niki Ginting adalah beberapa murid yang trauma.

Mereka dan puluhan murid lainnya mengharuskan meninggalkan gedung sekolah.

"Kami dan lainnya lari ke kampung sebelah," ucap Niki.

Niki menceritakan, saat mereka sedang belajar, tiba-tiba ada terikan erupsi. Mereka pun langsung keluar kelas dan berlari ke jalan.

"Kami lomba lari ke kampung Ndeskati yang ada di sebelah sana," jelasnya.

Hal senada dikatakan Ibnu. Ia mengaku sangat takut dengan erupsi Sinabung. Apalagi gurunya juga ikut berlari. Dia dan
teman-temannya memilih meninggalkan sekolah.

"Kami teriak-teriak dan menangis," tutur murid kelas 6 itu. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook