Selasa, 02 Juni 2020 WIB

Sumsel Bebas Asap, Posko Satgas Karhutla Ditutup

Suwardi SinagaAhad, 01 Desember 2019 22:24 WIB
Istimewa
Kepala BNPB Doni Monardo (kiri) dan Dansatgas yang juga Danrem 044/Gapo Garuda Dempo Kolonel Arh Sonny Septiono pada penutupan dan ramah tamah Posko Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2019, di Hotel Santika Primere, Palembang, Ahad (1/12/2019).

Indomedia.co - Kepala
Pelaksana
Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (
BPBD) Provinsi Sumatera Selatan Iriansyah menyampaikan penutupan Posko Satgas
Gabungan Karhutla karena udara dan wilayah Sumatera Selatan sudah bebas asap.




Hal itu disampaikan
Iriansyah pada penutupan
dan ramah tamah Posko Satuan Tugas
Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Sumatera Selatan
Tahun 2019, di Hotel
Santika Primere, Palembang
,
Ahad (1/12/2019). 




"Selain itu, jarak pandang
sudah lebih dari 10
km, dan ISPU di bawah 50," ucapnya.




Tim Satgas mengucapkan terima kasih
kepada Pemprov Sumsel dan BNPB. Selanjutnya kekurangan dalam
operasional lapangan, akan menjadi bahan evaluasi kedepannya untuk satgas.




Kepala BNPB Doni Monardo juga hadir pada acara tersebut. Doni mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu menyelamatkan “Bumi Sriwijaya" dari kebakaran hutan dan
lahan, karena bencana adalah urusan bersama.




Ada dua cara mengatasi karhutla, yang
pertama mengubah perilaku seperti peningkatan ekonomi masyarakat dan himbauan
dari pemuka agama/pemuka masyarakat. Kedua, jangan biarkan lahan
gambut kering namun tetap basah, kembalikan hakekat gambut yakni basah, berair
dan rawa.




"Lebih baik negara membayar untuk
meningkatkan kehidupan masyarakat, daripada untuk membiayai pemadaman api
," tegasnya.




Pesan selanjutnya tidak boleh lagi ada
kebakaran hutan dan lahan atau bertambah luas hutan dan lahan yang terbakar.




"Caranya, adanya sosialisasi kepada
masyarakat, lalu hidup bersama mereka dan membuka lapangan kerja
," katanya.




Dansatgas yang juga Danrem 044/Gapo
Garuda Dempo
Kolonel Arh Sonny Septiono menjelaskan selama pemadaman karhutla, tercatat
ada 11.310 petugas gabungan yang terlibat. Selain itu juga tercatat untuk
hotspot tertinggi di Sumatera Selatan adalah pada
Tahun 2015 dengan 27.043
hotspot. Pada
Tahun 2018 sejumlah 2.081 hotspot dan 2019 sejumlah 17.015 hotspot.
Sudah 106.194.000 liter air untuk pemadaman api dan 115,5 ton
penaburan garam TMC untuk hujan buatan. Sebanyak 46 orang
ditangkap. Total 312 desa yang terjadi
karhutla dengan upaya sosialisasi,
giat patroli, pemadaman darat dan udara, sekat, pembasahan, sumur bor, tim
PPRC, melaksanakan
gakkum, doa dan Salat Istisqa, TMC serta penguatan media.




"Pelaksanaan giat operasi Satgas Gabungan
Karhutla wilayah Sumatera Selatan dapat berjalan dengan aman dan terkendali.
Permasalahan serta kendala di lapangan dapat diselesaikan melalui koordinasi
yang intensif antara instansi terkait
," ucap Danstagas.




Pembubaran
Satgas Gabungan secara resmi dilakukan oleh Gubernur
Sumatera Selatan
Herman Deru. Tahapan yang sudah dilakukan adalah mulai dari 
pencegahan, pengendalian dan pemadaman. Penghargaan kepada semua pihak, yang
sudah peduli dengan kondisi alam di Sumatera Selatan.




"Atas nama masyarakat Sumatera Selatan
kami mengucapkan terima kasih atas perhatian BNPB. Kami akan menjaga alam dan
meningkatkan kesiapsiagaan agar tidak terbakar lagi di masa mendatang"
harapnya. 
(***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook