Sabtu, 14 Desember 2019 WIB

TGB dan Romo Beny Bersama Ulama Perkuat Ukhuwah Kebangsaan

Suwardi SinagaSelasa, 26 November 2019 11:32 WIB
Istimewa
Tokoh Agama Sumut TGB Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk, dan Romo Benny Susetyo bersama ulama mengadakan dialog untuk memperkuat ukhuwah kebangsaan, di Rumah Sufi dan Peradaban, Jalan Suluh No 51, Medan, Senin (25/112019) malam.

Indomedia.co - Tokoh Agama Sumatera Utara Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk, dan Romo Benny Susetyo bersama para ulama mengadakan dialog untuk memperkuat ukhuwah kebangsaan.


Kegiatan yang diikuti sekitar 100 alim ulama dari MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Washliyah dan kaum cendikiawan ini digelar di Rumah Sufi dan Peradaban, Jalan Suluh No 51, Medan, Senin (25/112019) malam.


TGB menyampaikan bahwa dialog kerukunan dan kebangsaan ini digelar setelah ia melalukan diskusi dengan Romo Benny di Jakarta tentang persoalan kerukunan, kebangsaan serta persoalan kekinian yang terlihat adanya pengaruh faham-faham luar yang intoleransi dan dapat merusak pesatuan dan kesatuan bangsa, serta dapat merongrong Pancasila dan keutuhan NKRI.


“Saya merasa prihatin dengan adanya faham-faham intoleransi yang banyak berkembang. Dan faham ini berpotensi menjadi paham radikal. Kita selalu mengajarkan bahwa agama sumber kedamaian dan kebahagiaan. Jadi orang yang berhasil menekuni agamanya akan melahirkan kondisi bathin yang lapang, sejuk dan memiliki sifat-sifat perdamaian dan humanity (kemanusiaan) serta cinta dan kasih sayang,” ujar TGB.


TGB juga menceritakan situasi pondok pesantren persulukannya di Simalungun yang diapit dua gereja besar namun tetap dapat hidup berdampingan. Bahkan setiap kegiatan yang dilakukan di persulukan juga kerap mendapat dukungan dan bantuan dari kaum Nasrani yang ada di Simalungun. Antara umat Islam dan Nasrani dapat hidup berdampingan, saling menghargai dan saling bantu membantu.


Sementara Romo Benny menyampaikan bahwa dunia digital yang saat ini berkembang juga bisa menjadi ancaman, karena dunia digital bisa membuat orang mudah terpengaruh. Orang juga kurang memahami ajaran agamanya secara menyeluruh karena banyak ajaran yang diikuti orang dari media sosial diterima secara sepotong-sepotong.


Romo Beny juga sepakat dengan TGB bahwa jika umat beragama memahami agamanya secara benar maka akan melahirkan insan-insan yang cinta kasih, menghargai perbedaan dan toleran. Karenanya Romo Beny juga menyarankan perlu ada satu kajian untuk bisa mencari titik temu antara agama-agama di Indonesia untuk bisa menangkal paham luar yang intoleran serta mencari solusi untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook