Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

Tito Ajak Camat Sosialisasikan Covid-19

Suwardi SinagaSelasa, 05 Mei 2020 10:43 WIB
Istimewa
Mendagri Tito Karnavian memberikan sebuah buku kepada Walikota Depok Muhammad Idris, Senin (4/5/2020).

Indomedia.co - Dalam kunkernya ke Depok, Senin (4/5/2020), Mendagri Tito Karnavian mengajak semua Camat di Depok mengkampanyekan pencegahan penularan Covid-19 ke masyarakat. Kampanye ini penting karena Tito yakin masyarakat banyak yang belum paham tentang Covid-19. Terlebih dari 11 kecamatan di Kota Depok semua masuk zona merah. Ditambah pula, 56 dari 63 kelurahan di Depok masuk zona merah. Itu artinya belum semua masyarakat paham tentang apa itu Covid-19.

"Jangankan masyarakat umum, kita sendiri belum tentu paham tentang Covid-19 dan penyebarannya. Dengan memakai masker kita membawa sesuatu kehidupan baru. Selain masker kita juga diharuskan sering-sering mencuci tangan. Karena ada tiga pintu masuk penularan, yaitu hidung, mulut dan mata, maka setelah keluar rumah kita harus cuci tangan sebelum menyentuh wajah," beber Tito dalam keterangan tertulis Staf Khusus Mendagri Kastorius Sinaga yang diterima awak media, Selasa (5/5/2020).

Selain menggunakan masker dan rajin mencuci tangan, maka diperlukan juga jaga jarak minimal dua meter antara orang yang satu dengan yang lain. Kerumunan adalah hal yang rawan terjadinya penularan secara massif. Oleh karenanya, Tito mengapresiasi MUI setempat yang selama pandemi masih berlangsung tidak melaksanakan salat jemaah di masjid. Karena Depok adalah kota yang sangat relijius dan kehidupan masyarakat umumnya tidak terlepas dari masjid.

Bahaya lain dari Covid-19 juga diungkap Mendagri Tito, orang yang terjangkit Covid-19 karena memiliki kekebalan tubuh yang prima bisa jadi tidak memiliki gejala sakit, tapi Covid-19 yang ada dalam dirinya bisa menular ke orang lain yang tidak semuanya memiliki kekebalan tubuh seperti dirinya. Orang yang tidak kebal dirawat ke rumah sakit, Sebagian bisa sembuh dan sebagian lainnya meninggal dunia.

Tito juga menjelaskan, PSBB itu tingkat penanganannya lebih rendah dari lockdown atau karantina wilayah yang sama sekali tidak membolehkan masyarakat beraktivitas di luar rumah. Semua harus berada di rumah. Sedangkan PSBB masih memungkinkan masyarakat membuka warung atau pergi ke pasar dengan persyaratan yang ketat. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook