Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

Defisit Anggaran Mungkin Melebar, Sri Mulyani Minta K/L Tetap Jalankan APBN 2019

Kamis, 24 Oktober 2019 22:40 WIB
Humas Setkab RI/Jay
Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjawab wartawan usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/10/2019) siang.

Indomedia.co - Meskipun ada sejumlah
nomenklatur kementerian/lembaga (K/L) yang baru dalam Kabinet Indonesia Maju
yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presdiden KH Ma’ruf
Amin, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta mereka agar tetap
menjalan
kan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Desember mendatang.




“Untuk Tahun 2019 ini kan tinggal dua bulan, jadi kita harap
untuk seluruh kementerian/lembaga, terutama mereka yang menghadapi kementerian
yang baru, mungkin untuk bisa betul-betul melihat agar momentum dari
keseluruhan pelaksanaan APBN 2019 tetap bisa dijalankan,” kata Sri Mulyani
menjawab wartawan usai mengikuti sidang kabinet paripurna, di Istana Merdeka,
Jakarta, Kamis (24/10
/2019) siang.




Menkeu mengingatkan, untuk 2019 karena
pelaksanaan sampai dengan pertengahan atau akhir
pekan ketiga Desember, maka waktunya tinggal
sedikit. Para menteri, mungkin terutama yang mengubah nomenklaturnya perubahan
K/L, menurut Menkeu, harus segera diselesaikan masalah transisinya. Sehingga
tidak terjadi delay atau perlambatan
di dalam penggunaan anggarannya.




Dilansir dari situs
resmi Setkab RI, u
ntuk Tahun 2020, menurut Menkeu, rencananya akan ada
penyampaian dokumen anggaran, juga masih belum menggunakan kementerian/lembaga
yang baru, karena undang-undang APBN-nya didetapkan pada saat masih menggunakan
kabinet yang lama.




“Oleh karena itu, adanya perubahan ini juga
perlu diselesaikan dalam waktu
dua
minggu ini, sehingga pada tanggal 15 November nanti Bapak
Presiden sudah bisa menyampaikan kepada seluruh kementerian dan lembaga
mengenai DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran)-nya mereka dan pelaksanaan
untuk perkembangannya,” jelas Menkeu.




Namun Menkeu Sri Mulyani Indrawati
mengingatkan, untuk beberapa kementerian yang perubahannya cukup besar, mungkin
mereka juga harus bicara dengan DPR lagi karena dalam menetapkan bagaimana
perubahan itu akan dilakukan.




Mengenai kemungkinan perubahan APBN 2020, Sri
Mulyani langsung menukas, “Enggak ada. Kita belum mulai kok diubah.”




Mengenai DIPA sisa tahun ini, Menkeu mengaku
akan diubah. Karena itu, agar DIPA-nya bisa difinalkan diharapkan untuk para
menteri kalau mereka sudah melihat dan mempelajarinya, dalam waktu
tiga pekan ini mereka
sudah bisa membahas internal mereka sendiri, kemudian mereka menyampaikan kepada
dewan dan kemudian menetapkan di dalam anggaran DIPA-nya sebelum penyelesaian
pada 15 November.




“Mungkin itu,” tegas Sri Mulyani.




Terkait penggunaan anggaran itu, Menkeu Sri
Mulyani menyampaikan penekanan Presiden adalah kepada koordinasi. Karena itu,
peran
Menteri
Koordinator (Menko) menjadi sangat penting.




“Saya ingin menyampaikan beberapa kementerian,
menko-menko itu membawahi berbagai kementerian, seperti Menko PMK ada 22
kementerian/lembaga yang dikoordinasikan. Jadi walaupun anggaran Menkonya kecil
tapi jumlah anggaran di kementerian lembaga yang dialokasikan
Tahun 2020 Rp288 triliun,
plus yang merupakan transfer ke daerah Rp241 triliun, plus PMN-nya Rp29
triliun. Ini yang ada di dalam koordinasi Menko PMK, termasuk pendidikan,
kesehatan kemudian sosial, desa dan yang lain-lain,” kata Menkeu.




Kemudian Menko Perekonomian, menurut Menkeu,
Airlangga Hartarto sudah punya pengalaman di bidang industri. Oleh karena itu
sekarang di dalam kemenko menjadi lebih mudah untuk transisinya dan memiliki
kerja sama yang lebih baik dan cepat.




“Dengan kami sangat baik. Jadi saya tentu
sangat mendukung Pak Menko Perekonomian untuk bisa mengkoordinasi dengan
pengalaman beliau untuk jauh lebih efektif dan jauh lebih cepat,” terang Sri
Mulyani seraya menambahkan, jumlah K/L yang dikoordinasi oleh Menko
Perekonomian ada 21, dengan anggaran Rp32 triliun, plus Dana Desa Rp28,9
triliun dan dari sisi PMN adalah Rp48,4 triliun.




“Ini kita harapkan untuk bisa memperkuat
industri yang tadi disampaikan Bapak Presiden dari sisi produktivitas pangan,
sektoral, dan industri, dan untuk competitiveness
kita,” tegas Menkeu.




Untuk Menko Maritim dan Investasi, menurut
Menkeu, walaupun jumlahnya kecil, jumlahnya hanya 7 termasuk investasi yang
baru, dan jumlah yang dikoordinasi anggarannya Rp65 triliun. Namun di
Kementerian Maritim dan Investasi ini mereka menggunakan insentif hingga
mencapai Rp62,7  triliun plus Rp27
triliun.




“Jadi sebetulnya mereka lebih kepada insentif
yang diberikan dalam bentuk tax
expenditure
, bukan dalam bentuk APBN yang mereka belanjakan,” terang
Menkeu.




Kemudian untuk Mahfud MD, Menko Polhukam,
menurut Menkeu, mengkoordinasi anggaran 297 triliun, dimana Kementerian
Pertahanan yang paling besar Rp131 triliun, naik sangat besar dan Kepolisian.




“Itu di dalam rangka untuk meningkatkan
tukinnya yang kemarin disampaikan Bapak 
Presiden pada hari TNI, alutsista, persiapan untuk menjaga
pilkada tahun depan dan
juga untuk meningkatkan pertahanan keamanan di Indonesia,” ujar Sri Mulyani.




Dalam kesempatan itu Menkeu Sri Mulyani
Indrawati juga menyampaikan, bahwa pengelolaan APBN 2019 ini mendapatkan
tekanan dari penerimaan yang sangat besar, terutama berasal dari kondisi
ekonomi.




Ia menyebutkan, pelaku-pelaku ekonomi kita
terutama di sektor manufaktur mengalami tekanan, pertambangan menurun cukup
drastis. Karena itu, menurut Menkeu, pihaknya 
melihat bahwa defisit kemungkinan akan melebar.




“Saya sudah mengeluarkan Keputusan Menteri
Keuangan untuk pelebaran defisit ini dan di dalam pembiayaannya mungkin tidak
terlalu besar tapi kita akan tetap kondisikan dengan kombinasi domestik dan
internasional. Saat ini secara internasional, suku bunga sangat rendah, jadi
ini akan memberikan opportunity
kepada kita mencari pembiayaan yang paling baik bagi kita. Nanti kita akan
lihat,” terang Menkeu.




Namun Menkeu tidak menyebut secara pasti
berapa besaran pelebaran defisit anggaran itu.




“Nanti,” pungkasnya. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook