Kamis, 15 November 2018 WIB

Indikator Makro Ekonomi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Untuk Pertama Kalinya, Angka Kemiskinan Berada Pada Level Satu Digit

Suwardi SinagaSelasa, 23 Oktober 2018 23:15 WIB
KSP
Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Indomedia.co - Meski menghadapi ketidakpastian global, dengan kerja keras dan kebijakan yang konsisten, indikator makro ekonomi tetap terjaga dan terus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik. Pencapaian ini adalah bukti komitmen kuat pemerintah pada pembangunan Indonesia yang menyeluruh dan adil.


Kondisi makro ekonomi dikelola dengan baik dan hati-hati.


"Pertumbuhan ekonomi stabil pada kisaran 5 persen dan terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Forum Merdeka Barat yang berlangsung di Gedung Sekretariat Kabinet, Jakarta, Selasa (23/10/2018).


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi 5,02 persen pada 2014, 4,88 persen (2015), 5,03 persen (2016), 5,07 persen (2017) dan 5,17 persen (Semester I 2018).


Angka pengangguran terus menurun mencapai 5,13 persen, dibarengi dengan peningkatan kesempatan kerja. Tingkat pengangguran pada 2014 5,94 persen, 6,18 persen (2015), 5,61 persen (2016), 5,5 persen (2017) dan 5,13 persen (Februari 2018).


Tingkat inflasi berada di kisaran 3 persen yang menjaga daya beli masyarakat dan memberi ruang bagi dunia usaha. Tingkat inflasi tahun 2014 8,36 persen, 3,35 persen (2015), 3,02 persen (2016), 3,61 persen (2017) dan 2,88 persen (September 2018).


Untuk pertama kalinya, angka kemiskinan berada pada level satu digit 9,82 persen. Angka kemiskinan tahun 2014 10,96 persen, 11,13 persen (2015), 10,7 persen (2016), 10,12 persen (2017) dan 9,82 persen (Maret 2018).


Turunnya angka kemiskinan diikuti dengan penurunan ketimpangan pendapatan yang konsisten. rasio gini pada level 0,389.


Pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan hati-hati. Defisit APBN dijaga di bawah 3 persen dari PDB. Utang pemerintah dikelola untuk mendukung pembangunan program prioritas dan sektor produktif.


Pemerintah bersama otoritas moneter mengambil langkah-langkah strategis, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah dan mengatasi defisit neraca transaksi berjalan. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook