Kamis, 15 November 2018 WIB

INO Ensemble Mendapat Sambutan Meriah di Jeonju International Sori Festival Korea Selatan

Senin, 15 Oktober 2018 12:36 WIB
kemlu.go.id
INO Ensemble tampil di JISF, Korea Selatan.

Indomedia.co - INO Ensemble, anggota inti dari Indonesian National Orchestra (INO), kembali menggelar konser besar mereka di panggung internasional bernama Jeonju International Sori Festival (JISF), 2-6 Oktober lalu. JISF merupakan satu dari 25 festival world music terbesar di dunia dan terletak di kota budaya Jeonju, Korea Selatan yang merupakan asal-muasal dinasti kerajaan di Korea.

Tahun 2017 lalu INO Ensemble yang menggunakan alat-alat musik tradisional dari seluruh Nusantara ini berhasil menggondol Juara ke-3 setelah mengalahkan 68 negara peserta lainnya di panggung festival kompetitif Sharq Taronalari yang diselenggarakan oleh Unsco dan Pemerintah Uzbekistan di kota Warisan budaya dunia, Samarkan.

Dilansir dari situs resmi Kemlu RI, Senin (15/10/2018), selain menggunakan alat-alat musik tradisional, INO Ensemble juga memainkan karya-karya musik yang diciptakan khusus oleh Franki Raden (Music Director INO Ensemble) berdasarkan budaya musik nusantara, sehingga walaupun terdengar modern karya musik yang digelar INO Ensemble tetap memiliki karakter budaya lokal Indonesia yang sangat kental.

Nomor pembuka INO Ensemble di panggung utama JISF "Double Stage" yang ditonton oleh ratusan penonton berjudul "Deaf Man Man Blues". Pada karya ini INO Ensemble menampilkan permainan alat kulintang dari Manado sebagai instrumen solo dalam gaya improvisasi yang sangat virtuosik dengan tangga-nada pentatonik blues. Sebelum mulai, Hendri Desmal melakukan atraksi silat Minangkabau dengan iringan kendang pencak Ade Juhana sehingga mendapat sambutan meriah.

Karya kedua yang ditampilkan INO Ensemble berjudul "Homage to the Ancestor" yang didasarkan pada elemen musik vokal Pulau Rote di NTT dan irama gong Sumba di NTB. Pada karya ini Amelia Ong (vokalis) dan Doni Yudo (bas akustik) menyelipkan permainan improvisasi musik jazz sehingga menjadi sebuah atraksi tersendiri.

Nomor terakhir penampilan INO Ensemble yang mendapat tepukan tangan sangat meriah dari penonton Jeonju International Sori Festival di panggung utama adalah "Voice of Diversity" yang menampilkan irama dinamis musik rebana Betawi dengan sangat kental. Di samping itu, sesuai dengan judulnya "Voice of Diversity" karya ini juga menampilkan permainan solo dari semua alat yang di gunakan oleh INO Ensemble plus sebuah nyanyian Mantra dari suku Dayak Kenyah di Kalimantan. Instrumen yang menjadi soloist pada karya ini adalah: Taganing Batak dan Serunai Minang yang dimainkan Hendri Desmal, Kulintang Manado yang dimainkan oleh Hartono Soegiarto, dan Kendang Sunda oleh Ade Juhana.

Pada hari kedua, 4 Oktober, INO Ensemble memberikan workshop musik tradisional nusantara kepada anak-anak dan remaja kota Jeonju di Stage Forest yang terletak di wilayah Hutan Lindung belakang Sori Art Center, tempat festival world music ini berlangsung.

Selain menerangkan jenis dan asal-muasal alat musik yang digunakan oleh INO Ensemble satu persatu, para peserta workshop kemudian juga diajarkan cara memainkan rebana Betawi yang menjadi dasar dari musik INO Ensemble. Setelah menguasai irama yang diajarkan ini para penonton diajak untuk memainkan karya "Voice of Diversity" sehingga membuat suasana workshop menjadi sangat meriah.

Lee Hae In, seorang sarjana etnomusikologi lulusan University of Hawaii, Honolulu yang menjadi peserta dan penerjemah workshop mengatakan ini adalah salah satu workshop musik terbaik yang pernah ia ikuti selama ini, baik di Korea maupun Amerika. Selesai acara workshop panggung INO Ensemble diserbu oleh para peserta yang penasaran untuk melihat dari dekat dan mencoba memainkan berbagai alat musik tradisional Nusantara yang di gunakan oleh INO Ensemble.

Partisipasi INO Ensemble pada Jeonju International Sori Festival merupakan sebuah terobosan baru di dunia world music Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa alat-alat musik tradisional Indonesia memiliki potensi yang besar jika kita bisa menggarapnya secara kreatif dan menyulapnya menjadi sebuah ensemble world music yang baru dan modern, tetapi tetap memiliki ciri khas budaya musik nusantara yang mempertahankan sifat keberagamannya. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Sumber: kemlu.go.id

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook