Selasa, 02 Juni 2020 WIB

Indonesia Terpilih Kembali Jadi Anggota Dewan IMO

BPK Terpilih Jadi External Auditor
Sabtu, 30 November 2019 19:59 WIB
Kedeputian Kemaritiman/ Diana I
Wakil Seskab Ratih Nurdiati mewakili Delegasi RI mengikusi sidang IMO, di London, Inggris, Jumat (29/11/2019).

Indomedia.co - Indonesia resmi terilih kembali anggota Dewan
International Maritime Organization (IMO) atau Organisasi Maritim Internasional
) Kategori C Periode 2020-2021 dalam sidang IMO Assembly, di London, Inggris,
Jumat (29/11/2019) waktu setempat.




“Indonesia kembali
menjadi anggota Dewan IMO Kategori C periode 2020-2021 dengan mendapatkan 139
suara dan menduduki peringkat ke-5 dari 24 Negara anggota IMO yang mencalonkan
di Dewan IMO Kategori C,” ujar Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan
R Agus H Purnomo, yang mengikuti langsung sidang tersebut di Kantor IMO,
London.




Dilansir dari situs
resmi Setkab RI, menurut Agus, dalam pemilihan Anggota Dewan ini, terdapat 168
negara anggota IMO yang hadir pada Sidang Majelis IMO ke-31, dan hanya 165
negara yang memiliki hak suara, sementara 3 negara lain dianggap tidak eligible untuk memberikan suara.
Sedangkan pada pemilihan Anggota Dewan Kategori C, sebanyak 165 pemilih
dianggap sah suaranya.




“Di Kategori C,
Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama dengan perolehan
jumlah suara sebanyak 153 suara,” ujar Agus.




Adapun peringkat
selanjutnya berturut-turut diraih oleh Malta (145), Malaysia (142), Siprus
(140), Indonesia (139), Bahama (137), Afrika Selatan (136), Mexico (135), Chili
(134), Belgia (133), Mesir (132), Peru (132), Moroko (131), Denmark (130),
Turki (129), Thailand (127), Jamaica (125), Filipina (119), Kuwait (112), dan
Kenya (111).




“Empat negara lain
tidak masuk dalam keanggotaan dewan IMO kategori C, yaitu: Nigeria (110), Saudi
Arabia (106), Polandia (101) dan Liberia (100). Sementara 1 negara, yaitu Qatar
mengundurkan diri sebagai kandidat Anggota Dewan IMO Kategori C,” jelas Agus.




Dengan menjadi anggota
Dewan IMO Kategori C, jelas Dirjen Perhubungan Udara itu, merupakan upaya dan
menjadi salah satu pencapaian Indonesia dalam mengembalikan kejayaan maritim
untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.




Sedangkan untuk
anggota Dewan IMO kategori A, terdiri atas 10 negara yang mewakili armada
pelayaran niaga internasional terbesar dan sebagai penyedia angkutan laut
internasional terbesar, sesuai dengan jumlah perolehan suara terbanyak, yaitu
Jepang, Republic of Korea, Italia, China, Yunani, Panama, Inggris, Norwegia,
Amerika Serikat, dan Federasi Rusia.




Kategori B terdiri
dari 10 negara yang mewakili kepentingan terbesar dalam “International Seaborne
Trade”, sesuai dengan urutan perolehan suara terbanyak, yaitu Australia,
Jerman, Prancis, Brazil, Spanyol, India, Kanada, Uni Emirat Arab, Brazil dan
Argentina.




Adapun Swedia yang
pada periode sebelumnya menjadi Anggota Dewan Kategori B, tidak lagi terpilih
karena jumlah suara pemilihnya berada di urutan terakhir.




Dirjen Perhubungan
Udara Kementerian Perhubungan R Agus H Purnomo menyampaikan, selain proses
pemilihan Anggota Dewan IMO, dilaksanakan pula pemilihan external auditor IMO
periode 2020-2023. Indonesia mengajukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bersaing
dengan dua negara lain, yaitu Italia dan Inggris.




Pada putaran pertama
pemilihan, Indonesia berhasil mengungguli Italia dan Inggris dengan perolehan
suara sebesar 64 suara, dibandingkan dengan Inggris yang mendapatkan 45 suara
dan Italia yang mendapatkan 24 suara.




Namun demikian, karena
perolehan suara yang diperoleh oleh Indonesia tidak memenuhi jumlah suara
minimal yang diperlukan untuk dapat terpilih, yakni 72 suara, dilakukan
pemilihan putaran kedua.




Selanjutnya, pada
pemilihan putaran kedua Indonesia akhirnya berhasil memperoleh suara mayoritas
sejumlah 75 suara mengalahkan Inggris yang dengan perolehan 64 suara dari total
142 pemilih, di mana 3 di antaranya abstain.




“Saya harap, dengan
terpilihnya BPK menjadi external auditor IMO semakin menunjukkan eksistensi
Indonesia di kancah pergaulan Internasional, khususnya pada sektor maritim,”
pungkas Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan R Agus H Purnomo. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook