Selasa, 07 Juli 2020 WIB

Jokowi Dorong Kolaborasi Jadikan Rivalitas Menjadi Kerja Sama di Kawasan Indo Pasific

Ahad, 03 November 2019 21:40 WIB
Humas Setkab RI/Rahmat
Para pemimpin negara ASEAN dan RRT bergandengan tangan saat berfoto bersama dalam KTT ASEAN-RRT, di Bangkok, Thailand, Ahad (3/11/2019).

Indomedia.co - Presiden Joko Widodo
(Jokowi) mengatakan, bahwa kerja
sama yang selama ini dilakukan ASEAN dengan
Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan lokomotif bagi terciptanya perdamaian,
stabilitas, dan kesejahteraan kawasan.




“Dalam kaitan ini, Presiden mengatakan bahwa
melalui outlook ASEAN mengenai Indo-Pasific maka Indonesia ingin mendorong
kolaborasi menjadikan rivalitas menjadi kerja
sama, dan kita juga ingin
menyebarkan perdamaian dan stabilitas di dalam konteks yang lebih besar, di
dalam kawasan yang lebih besar yaitu kawasan Indo-Pasific,” kata Menteri Luar
Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengutip pidato Presiden Jokowi dalam KTT
ASEAN-RRT, di Bangkok, Thailand,
Ahad
(3/11/2019).




Dilansir dari situs
resmi Setkab RI,
Presiden, lanjut Menlu, sekali lagi
menyampaikan mengenai rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah Indo Pacific
Infrastructure Connectivity Forum, tahun depan, yang tentunya ini terbuka bagi
kerja
sama dengan Tiongkok.




“Presiden juga mengatakan bahwa sinergi antara
Master Plan of ASEAN on Connectivity
Tahun 2025, dan Belt
and Road Initiative
adalah merupakan suatu keniscayaan,” jelas Menlu dalam
Media Briefing Menlu usai kegiatan hari kedua KTT ASEAN di Bangkok, Thailand,
Ahad (3/11/2019) sore.




Dalam KTT ASEAN-RRT itu, menurut Menlu, Presiden juga menyoroti
mengenai masalah pentingnya strategic
trust
.




“Presiden mengatakan bahwa strategic trust ini sangat penting untuk
menjaga stabilitas dan perdamaian, termasuk di dalamnya adalah di Laut Cina
Selatan,” Menlu.




Menurut Menlu Retno Marsudi, Presiden
menekankan mengenai pentingnya dihormati hukum internasional termasuk UNCLOS
1982 dan juga me-recognise adanya
kemajuan yang ada di dalam negosiasi code
of conduct
.




“Yang diinginkan oleh Presiden adalah agar
sentimen positif yang tercipta di dalam meja perundingan melalui first reading
negosiasi untuk Code Of Conduct (COC)
ini juga tercermin di situasi lapangan berarti situasi di Laut Cina Selatan,”
terang Menlu.




Mengenai suara negara-negara ASEAN lainnya,
Menlu menjelaskan, beberapa isu yang disampaikan antara lain tentunya Laut Cina
Selatan dengan tekanan bahwa ada COC yang sedang dinegosiasikan dan hampir
semua negara menyampaikan mengenai pentingnya untuk menghornati hukum
internasional termasuk untuk UNCLOS.




Kemudia, negara anggota juga menyadari dan
menyampaikaan bahwa Tiongkok merupakan mitra besar perdagangan ASEAN, dan dari
pihak Tiongkok, mereka juga menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat
perdagangan yang terbuka dengan ASEAN.




Selain itu, negara-negara anggota ASEAN juga
menyampaikan mengenai keamanan maritim dan juga ancaman kejahatan lintas batas.




“Jadi, dari Tiongkok menyoroti tiga hal. Di
pilar politik, sorotannya adalah mengenai proses negosiasi di dalam konteks COC
yang sedang dilakukan. Di pilar ekonomi menyoroti mengenai masalah kemitraan
perdagangan, kemitraan ekonomi dan mengenai pasar yang terbuka. Sementara di
pilar ketiga mengenai people to people
contact
, menyebutkan mengenai bagaimana upaya kedua belah pihak untuk
mendekatkan hubungan antara manusia, termasuk diantaranyaa dalah mengenai
masalah exchange of students melalui scholarship,” ucap Menlu seraya
menambahkan, tercatat pada tahun lalu, misalnya terdapat 57 juta manusia yang
saling berkunjung antara ASEAN dengan Tiongkok




Dalam KTT ASEAN-RRT itu, Presden Jokowi didampingi oleh Menko
Polhukam Mahfud MD, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menlu Retno Marsudi,
Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. (
***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook