Sabtu, 11 Juli 2020 WIB

Satu Keluarga Asal Indonesia Terlantar di Hutan Malaysia, Suami Asal Makassar Akhirnya Meninggal

Suwardi SinagaSenin, 02 Desember 2019 12:23 WIB
Istimewa
Sekdaprov Sumut Sabrina, Kadis PPPA Nurlela, Kabag Humas Muhammad Ikhsan bersama Konjen RI Yonny Tri Prayitno menjemput Mida Situmorang dan kelima anaknya di tempat penampungan sementara KJRI Kuching, Serawak, Malaysia, Senin (2/12/2019).

Indomedia.co - Satu keluarga Warga Negara Indonesia (WNI)
asal Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ditemukan terlantar di
sebuah pondok di hutan Batu Sembilan, Bintulu, Malaysia. Seorang ibu dan lima anaknya
tersebut sudah dievakuasi ke tempat penampungan sementara milik Konsulat
Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Sarawak, Malaysia.




Mendengar kabar itu,
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi kembali memerintahkan Sekretaris Daerah Provinsi
(Sekdaprov) Sumut Sabrina bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (PPPA) Sumut Nurlela untuk berangkat ke Kuching, menjemput
Mida Situmorang dan kelima anaknya.




“Pak Gubernur sudah
memerintahkan Bu Sekda dan Kadis PPPA Sumut untuk berangkat ke Kuching, untuk
menjemput mereka dan membawa pulang ke Sumut,” ujar Kepala Bagian Humas Biro
Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut Muhammad Ikhsan, Senin (2/12/2019).




Menurut Ikhsan, Tim
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut segera berkoordinasi dengan pihak KJRI di
Kuching, Malaysia, guna pengurusan administrasi dan dokumen yang dibutuhkan, agar
Mida Situmorang dan kelima anaknya segera dapat dipulangkan ke Sumut.




Diketahui, Mida
Situmorang (45) dan lima orang anaknya, Diana (9), Akbar (6), Murni (5), Linda
(4) dan Puteri (2) sempat terlantar di hutan Batu Sembilan, Bintulu, Malaysia,
sebelum dievakuasi staf KJRI Kuching dari tempat penampungan sementara di
Bintulu.




Konsul Jenderal RI di
Kuching Yonny Tri Prayitno menyampaikan, awalnya ada warga setempat yang
melihat Mida selalu keluar masuk hutan. Penasaran dengan Milda yang selalu
keluar hutan membawa sayuran untuk dijual ke masyarakat, warga pun mengikutinya
hingga masuk ke hutan.




Warga pun mendapati
Mida bersama lima anaknya, serta suaminya Erwin (asal Makassar) yang sedang
sakit, dalam kondisi yang memprihatinkan. Hingga akhirnya suaminya meninggal tiga
bulan yang lalu.




Warga kemudian
melaporkan hal itu ke KJRI di Kuching, selanjutnya pihak KJRI melakukan
evakuasi.




“Suaminya sakit di
hutan, mamanya ini berdagang ke kota, ada yang lihat, dia ikuti sampai ke
hutan,” ujarnya.




Mendapat laporan
tentang itu, pihak KJRI Kuching pun segera melakukan evakuasi ke KJRI. Saat ini
Mida yang bekerja di Kuching sejak Tahun 1974 sudah berada di penampungan
sementara milik KJRI, bersama lima orang anaknya. Pihak Imigrasi KJRI Kuching
Sarawak juga sudah membuatkan dokumen perjalanan berupa Surat Perjalanan
Laksana Paspor (SPLP) yang nantinya digunakan untuk proses pemulangan ke Sumut.
(***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook