Senin, 10 Desember 2018 WIB

Ini Cara Pemerintah Stop Jual Beli Jabatan

Suwardi SinagaJumat, 26 Oktober 2018 09:18 WIB
KSP
Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho saat keterangan pers.

Indomedia.co - Bupati Cirebon terjaring Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan jual beli jabatan, Rabu (24/10/2018) kemarin. Kasus ini diyakini hanyalah salah satu dari sejumlah kasus yang terjadi. Menurut Komisi Aparatur Sipil Negara, saat ini jabatan setingkat eselon I di daerah bisa diperjualbelikan seharga Rp500 juta - Rp1 miliar.


Kasus ini terjadi akibat proses mutasi, promosi, dan demosi Aparatur Sipil Negara belum sepenuhnya menerapkan sistem berbasis merit. Hal ini sangat rawan konflik kepentingan dan jual beli jabatan. Untuk mencegahnya Pemerintah segera terapkan sistem merit berbasis IT.


Dalam siaran pers Kantor Staf Presiden yang diterima Indomedia.co disebutkan, sistem merit dalam jabatan nantinya akan membantu pemerintah dalam proses mempromosikan dan mempekerjakan Aparatur Sipil Negara berdasarkan kemampuan mereka dalam melakukan pekerjaan, bukan pada koneksi politik mereka.


"Presiden telah menegaskan bahwa seleksi dan promosi ASN harus berbasis sistem merit dan tidak boleh ada lagi kasus jual beli jabatan," kata Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho, usai konferensi pers di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (25/10/2018).


Yanuar yang juga anggota koordinator Tim Nasional Pencegahan Korupsi ini memastikan bahwa pemerintah akan melakukan penguatan penerapan sistem merit dan pengawasan tata kelola sistem merit berbasis teknologi informasi. Langkah ini diambil untuk mengurangi konflik kepentingan di dalam penentuan seleksi jabatan pimpinan tinggi di pusat dan daerah. Harapannya, penerapan sistem merit atau seleksi jabatan dengan teknologi informasi akan mengurangi celah jual beli jabatan dan memastikan terpilihnya pejabat pimpinan tinggi yang berkualitas dan berintegritas. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook