Sabtu, 21 September 2019 WIB

Kesal Kepada UNHCR, Ratusan Imigran Unjuk Rasa di Medan

M JawiKamis, 22 Agustus 2019 12:58 WIB
M Jawi
Ratusan imigran pencari suaka dari berbagai negara berunjuk rasa di depan Kantor UNHCR, Jalan Imam Bonjol, Medan, Sumut, Kamis (22/8/2019).

Indomedia.co - Ratusan imigran pencari suaka dari berbagai negara berunjuk rasa di depan Kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Jalan Imam Bonjol, Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8/2019).


Ratusan imigran tersebut melakukan aksi unjuk rasa sebagai bentuk kekesalan terhadap UNHCR yang tidak kunjung memberangkatkan mereka ke negara tujuan suaka, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, dan Kanada. Padahal, mereka sudah lama tinggal di lokasi penampungan di Medan.


"Saya sudah tujuh tahun tinggal di sini. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan dari UNHCR," kata seorang imigran asal Sudan, Ishaq Bahar di sela-sela unjuk rasa. 


Para imigran yang tinggal di Medan berasal dari berbagai negara seperti Sudan, Somalia, Etiophia, Palestina, Irak, Afghanistan, Sri Lanka dan beberapa negara lainnya ini, tak bisa bekerja. Sebab, negara maupun UNHCR tak memperbolehkan mereka bekerja.


"Lama-lama bosan hidup seperti ini. Kami hanya makan tidur. Mencari kerja tidak boleh," kata Ibrahim Basim, imigran asal Palestina.


Sepanjang hidup di Indonesia, mereka hanya mengharapkan dana bantuan dari PBB yang dikelola oleh lembaga non pemerintah, International Organization for Migration (IOM) dan UNHCR. Rata-rata, seorang imigran mendapat bantuan biaya hidup sebesar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.


Menurut mereka, angka tersebut tidak cukup untuk membiayai kehidupan mereka di kota besar seperti Medan. Belum lagi, tidak sedikit para imigran ini yang telah berkeluarga. Di sisi lain, mereka tak diperbolehkan mencari kerja untuk mendapat penghasilan tambahan. Bahkan, beberapa dari mereka mengatakan bahwa uang donasi dari negara-negara lain untuk mereka dipangkas oleh IOM.


Masalah lainnya, anak-anak mereka juga tidak bisa mendapat pendidikan formal selama tinggal di Indonesia. Belum lagi dengan biaya kesehatan yang juga tak mereka peroleh. Bahkan, jika ada imigran atau anak mereka yang sakit, tidak bisa langsung diobati.


Hal inilah yang memaksa mereka turun jalan, dan meminta pemerintah Indonesia dan UNHCR segera memberangkatkan mereka ke negara tujuan suaka. 


"Kami tidak memiliki masa depan jika terus tinggal di sini. Anak-anak kami tidak bisa sekolah. Biaya hidup sangat kecil. Kami minta segera diberangkatkan. Diproses," kata Aiman Nasir, imigran asal Irak.


"Kehidupan kami hanya makan minum, tidak ada kegiatan sehingga kami stres makanya kami ingin meminta kepada pemerintah agar mengirim kami ke negara suaka. Namun, UNHCR hanya bilang sabar, dan sabar," kata Aiman. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook