Jumat, 20 September 2019 WIB

Mbah Parno, Orang Kepercayaan Friedrich Silaban Arsitek Masjid Istiqlal, Dapat Rumah di HAB 73

Ahad, 06 Januari 2019 21:24 WIB
kemenag.go.id
Menag Lukman Hakim Saifuddin memberikan "Bantuan Rumah untuk Mbah Suparno, Pelayan Friedrich Silaban (Arsitek Masjid Istiqlal)", di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Indomedia.co - Hari Amal Bhakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama Tahun 2019 memberi warna dalam hidup Suparno (90) atau yang biasa dipanggil Mbah Parno. Kakek yang hingga kini masih aktif berkhidmah di Masjid Istiqlal, Jakarta ini mendapat berkah berupa sebuah rumah.


Bantuan rumah ini diberikan oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Ngobras atau Ngobrol Santai bareng Menteri Agama. Acara yang merupakan rangkaian peringatan HAB ini berlangsung di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (4/1/2019). Hadir dalam kesempatan ini ratusan keluarga besar ASN Kemenag.


"Semoga membawa berkah dan manfaat. Ini ada bantuan dari ASN Kementerian Agama," kata Menag sembari menyerahkan secara simbolik voucher bertuliskan 'Bantuan Rumah untuk Mbah Suparno, Pelayan Friedrich Silaban (Arsitek Masjid Istiqlal)'.


Lantas siapakah Mbah Parno? Humas Kementerian Agama pernah melakukan wawancara dengan Mbah Parno pada Rabu (28/9/2016), di Masjid Istiqlal.


Dilansir dari situs resmi Kemenag, Humas tiba di Masjid Istiqlal jelang Salat Zuhur berjamaah. Saat itu, nampak seorang kakek melambaikan tangan, mengajak orang-orang untuk merapatkan barisan guna Salat Zuhur berjamaah. Lelaki tua itu tak lain adalah Mbah Parno, salah satu saksi hidup sejarah pendirian masjid terbesar di Asia Tenggara ini, Masjid Istiqlal.


Mbah Parno lahir di Desa Kalimati, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah pada 1928. Tahun 1951, dia merantau ke Ibu Kota sebagai kuli bangunan. Pada 24 Agustus 1952, bertepatan dengan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal. Mandor yang diikuti Mbah Parno ikut dalam pembangunan masjid tersebut. Di sinilah, Suparno yang kala itu berusia 24, bertemu dengan Arsitek Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, seorang Batak yang beragama Kristen Protestan.


Kala itu, pekerjaan Suparno adalah kuli bangunan, sembari juga mencari tenaga-tenaga untuk pembangunan masjid.


"Waktu itu, masih sepi Mas. Saya jalan kaki muter-muter mencari orang untuk kerja proyek di Masjid ini. Para tukang becak saya tawari. Saat itu, kita dibayar Rp15 seharinya," kisah Mbah Parno, saat ditemui di Ruang Unit Fasilitas Ibadah, sebelah Barat laut ruang utama Masjid Istiqlal.


Mbah Parno menceritakan, Masjid Istiqlal berdiri di atas tanah seluas sembilan hektar. Lima hektar di antaranya untuk masjid, sisanya dibuat taman, parkir dan lain sebagainya.


"Waktu itu, Pak Soekarno memerintahkan Pak Silaban yang juga Dosen UI di Salemba bagian arsitek, untuk membuat tiga gambar. Masjid ini, Monas dan Stadion Utama Senayan. Nah, begitu Pak Silaban diturunkan di sini, saya yang disuruh melayani. Ya cetak gambar, makannya apa, minumnya apa, itu semua saya yang ngurusi," kenang Mbah Parno.


Mbah Parno meyakinkan, awalnya, dirinya memang bekerja sebagai kuli bangunan. Suparno yang cekatan, menyita perhatian Silaban, karena setiap disuruh, Suparno tidak pernah mengecewakan.


"Pak Silaban suka dengan kerja saya. Karena setiap disuruh, saya langsung berangkat dan setiap ditanya, selalu saya katakan, sudah saya laksanakan dan beres, Pak," tuturnya.


Pelan tapi pasti, Suparno beralih profesi, dari kuli bangunan, menjadi tukang membuatkan teh, kopi, dan menyiapkan makanan Silaban yang menggemari ikan mentah. Selama bekerja membangun Masjid Istiqlal, Silaban "hanya" mau dilayani oleh Suparno dalam hal teknis seperti mengantar surat, mengecek barang, serta membuatkan kopi, minuman, dan makanan. Diterangkan Mbah Parno, belum pernah sekalipun Silaban marah padanya.


Setelah masjid berdiri dan siap digunakan, Suparno diangkat menjadi pegawai Istiqlal. Tugas utamanya adalah mengantar surat. Uniknya, lelaki yang memiliki lima anak ini selalu jalan kaki dalam mengantar surat, terutama saat mengantar ke alamat yang dekat dengan Istiqlal, misalnya, Kemenkeu, Istana, Kemendagri, Kemenag, dan lainnya.


Hingga kini, kakek dua cucu ini, setiap berangkat ke Istiqlal, juga masih suka jalan kaki. Jarak antara kontrakan Mbah Parno yang berada di Jalan Garuda Gang Mangga Kemayoran dengan Masjid Istiqlal lebih kurang 2 KM, tidak menghalanginya untuk selalu jalan kaki.


Pada 2005, Mbah Parno dipindahtugaskan dari mengantar surat, menjadi penjaga sepatu/sandal jamaah. Sejak Mei 2016, Mbah Parno dipercaya masuk Bidang Takmir Bagian Tim Fasilitas Ibadah. Tugasnya adalah ngopyak-ngopyak atau menyuruh para jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shaf (barisan) saat salat jamaah Zuhur dan Ashar.


Selepas Ashar, Mbah Parno kembali ke kontrakan. Pekerjaan yang seperti itu dilakukan tiap Senin hingga Jumat.


Sudah puluhan tahun di Jakarta, Mbah Parno belum memiliki rumah. Lulusan kelas 3 SR ini menyewa tanah berukuran 8 x 3,5 M dengan biaya Rp3 juta/tahun. Sedang untuk bangunannya, dia mendirikan sendiri. Rumah tersebut dihuni Mbah Parno beserta istri dan kelima putranya. Sejak ditinggal istri tercinta pada 2007 lalu, Mbah Parno tinggal beserta 4 anak dan 2 cucunya. Satu putrinya telah menikah dan mengontrak sendiri.


Bekerja di Masjid Istiqlal, Mbah Parno digaji Rp3,4 juta/bulan. Mbah Parno diberi keleluasaan tanpa batas untuk mengabdikan dirinya di masjid.


"Pokoknya, selama saya masih kuat, saya diperbolehkan bekerja di sini. Jika sudah tidak kuat, saya baru akan berhenti. Kerja di sini saya ikhlas, karena bisa salat berjamaah. Saya hanya mengharap ridha Allah SWT," semangat Mbah Parno sambil ketawa.


Mbah Parno tentu berharap punya rumah sendiri. Namun, itu tidak mengurangi rasa syukur nya atas nikmat hidup yang sudah dia dapat. Apalagi, anak-anaknya juga bisa melanjutkan sekolah hingga SMEA dan STM.


"Allah itu Maha Adil. Yang penting bisa shalat berjamaah, bisa maen sama cucu, makan seadanya, yang penting sabar, jangan emosi, apa adanya saja. Jadi kerja dibuat happy saja mas, alhamdulilah bisa mengabdi di Istiqlal," ujarnya.


Dia mengaku beberapa temannya mendorong untuk mengajukan bantuan agar bisa mendapat rumah karena sudah puluhan tahun mengabdi, namun itu ditampiknya.


"Saya ini orangnya gak aneh-aneh, Mas. Tapi kalau disuruh minta, jangan. Dilarang sama orang tua saya dulu untuk minta-minta," katanya.


"Semua tergantung pemimpin. Dikasih alhamdulillah, gak dikasih juga alhamdulillah. Ada yang mengerti alhamdulillah, gak ada yang mengerti juga alhamdulillah. Yang penting, sehari-hari, hingga saat ini, saya bisa datang kemari dan bisa salat berjamaah," lanjutnya.


Doa dan harapan Mbah Parno terjawab. Pada Jumat (4/1/2018), bersamaan dengan peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama ke-73, Mbah Parno mendapat berkah. Mewakili keluarga besar Kementerian Agama, Menag Lukman Hakim Saifuddin memberikan "Bantuan Rumah untuk Mbah Suparno, Pelayan Friedrich Silaban (Arsitek Masjid Istiqlal)".


Rumah itu berlokasi di Panorama Kemang, Desa Tegal, Parung. Selamat untuk Mbah Parno. Dedikasi Bapak adalah teladan nyata buat ASN Kementerian Agama. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Sumber: kemenag.go.id

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook