Rabu, 15 Juli 2020 WIB

Bersih-bersih Kota Medan Ala Akhyar Nasution

Sabtu, 14 September 2019 21:24 WIB
Istimewa
Aswan Jaya.

Oleh: Aswan Jaya
(Wakil Ketua DPD PDIP Sumut)

Sapu lidi, sendok
sampah, keranjang sampah dan pas bunga dibawa oleh Akhyar Nasution saat
mendaftar sebagai calon Wali Kota Medan di Kantor DPC PDIP Kota Medan pada
Jumat (13/9/2019) lalu.

 

Instrumen kebersihan
itu cukup jelas menggambarkan apa yang akan di lakukan sang tokoh saat memimpin
Kota Medan. Yaitu bersih-bersih dan membangun keseimbangan lingkungan.

 

Makna Bersih-Bersih Sesungguhnya

 

Sebagai kota
metropolitan, tentu berbagai kegiatan ekonomi berlangsung selama 24 jam di
Medan. Baik dalam sektor industri, jasa dan kuliner. Semua sektor ini berdampak
terhadap produksi sampah yang luar biasa banyaknya. Akibatnya adalah
pencemaran.

 

Sektor industri
berjasa besar terhadap pencemaran terutama di sungai-sungai. Pencemaran ini
sudah sampai pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Jangankan manusia,
ikan-ikan saja pun sudah tak sudi untuk hidup di sungai-sungai di sepanjang
Kota Medan.

 

Di sektor jasa pun
produksi limbah dan sampahnya tidak kalah dalam memberikan kontribusi
pencemaran lingkungan. Jasa transportasi berkontribusi terhadap polusi udara.
Perhotelan dan perdagangan berkonstribusi terhadap pencemaran diberbagai
drainase Kota Medan.

 

Sementara sektor
kuliner yang saat ini sedang menjadi trend bisnis bagi investor menengah tidak
luput memberikan efek kotor. Limbah sayuran, sisa makanan dan minuman dan
penggunaan berbahan plastik yang masih tinggi merupakan sampah yang di hasilkan
oleh sektor kuliner.

 

Kota Medan tengah dikepung
oleh berbagai sektor yang memperoduksi sampah cukup banyak. Situasi ini di
perparah oleh perilaku kotor masyarakatnya. Kesadaran untuk mewadahi sampah
rumah tangga di rumah masing-masing masih sangat rendah. Sangat mudah dijumpai
tumpukan sampah di pinggir-pinggir jalan dan tanpa merasa bersalah sebagian
masyarakat Kota Medan dengan mudahnya membuang sampah sekena hatinya saja.

 

Inilah yang menjadi
faktor utama Kota Medan menyandang gelar predikat kota terkotor oleh
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada penyerahan Piala Adipura
2018 di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta beberapa waktu lalu.

 

Produksi sampah yang
berlebihan dan tempat pembuangan yang sembarangan turut menjadi penyebab
beberapa wilayah Kota Medan mudah kebanjiran saat turun hujan.

 

Akhyar Nasution yang
tak memiliki kewenangan dan keleluasaan dalam mengelola Kota Medan saat menjadi
Wakil Wali Kota Medan sangat menyadari betul persoalan yang tengah dihadapi
oleh masyarakat Kota Medan. Karena itulah ia membawa simbol bersih-bersih
sebagai program politik yang ditawarkan kepada masyarakat saat dirinya maju
sebagai calon Wali Kota Medan pada Pilkada Tahun 2020.

 

Kelak Medan akan
menjadi role model untuk program bersih-bersih kota di Indonesia. Tidak cukup
untuk bersih-bersih, Medan juga akan menjadi kota yang ramah lingkungan dengan
berdirinya berbagai taman-taman kota di mana setiap anak-anak bisa bermain
sembari menyaksikan merahnya Bunga Mawar yang baru mekar.

 

Itulah Kota Medan yang
bersih dan ramah lingkungan.

 

Pesan Lain Bersih-bersih

 

Simbol bersih-bersih
itu, tidak hanya bermakna bersih-bersih dalam arti sesungguhnya seperti di
atas, tetapi juga sebagai pesan bahwa Akhyar Nasution juga akan menjalankan
program bersih-bersih disemua sektor penyelenggara pemerintah kota.

 

Bersih-bersih dari
perilaku korupsi aparatur pemerintah kota yang menyebabkan kebocoran berbagai
pos anggaran.

 

Bersih-bersih dari
berbagai perilaku pungutan liar dalam berbagai proses pelayanan terhadap
kebutuhan administrasi maupun non administrasi masyarakat Kota Medan.

 

Bersih-bersih dari
mental aparatur pemerintah kota yang malas dan kurang disiplin.

 

Semua program
bersih-bersih dalam pemerintah kota merupakan garansi bahwa pemerintah kota di
bawah kepemimpinannya berjalan sebagaimana harapan dan impian masyarakat Kota
Medan.

 

Keberhasilan program
bersih-bersih ini, diharapkan berdampak kepada sektor investasi. Investor akan
datang saat semua pelayanan publik berjalan efektif dan efesien.

 

Efektif karena semua
proses masuknya investasi bisa berjalan dengan cepat. Efisien karena investor
tidak lagi menemukan berbagai pungutan liar yang membuat mereka jengah.

 



























































































Dengan demikian
program bersih-bersih ini membawa dampak pada peningkatan PAD Kota Medan.
Konsekuensi dari itu adalah terbuka lapangan pekerjaan yang luas. Sehingga
program mensejahterakan masyarakat manjadi hal yang sangat memungkinkan. (***)

Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
Komentar Facebook